Mau tau soal arsitektur, arsitek, desain, interior, konstruksi?

Memuat...

Selamat Datang.......

selamat datang di dunia arsitektur dan interior...blog ini berisi tentang berbagai informasi seputar dunia arsitektur, desain, seni dan budaya. berbagai hal tentang teori desain bangunan dan lansekap juga diposting di blog ini. ulasan jejak rekam arsitek terkenal dan juga bangunan-bangunan hasil karyanya akan selalu dihadirkan di sini...so..check this out!!! selamat membaca...salam 

Jumat, 31 Juli 2009

Arsitektur Futuristik




Arsitektur Futuristik
• Futuristic mempunyai arti yang bersifat mengarah atau menuju masa depan.
• Citra futuristic pada bangunan berarti citra yang mengesankan bahwa bagunan itu berorientasi ke masa depan atau citra bahwa bangunan itu selalu mengikuti perkembangan jaman yang ditunjukkan melalui ekspresi bangunan.
• Fleksibilitas dan kapabilitas bangunan adalah salah satu aspek futuristic bangunan. Fleksibilitas dan kapabilitas sendiri adalah kemampuan bangunan untuk melayani dan mengikuti perkembangan tuntutandan persyaratan pada bangunan itu sendiri. Sedangkan kemampuan untuk melayani dan mengikuti perkembangan jaman hanya bias diwujudkan atau diimplementasikan dalam penapilan dan ungkapan fisik bangunan.
Menurut Haines (1950) dan Chiara dkk (1980) criteria diatas adalah :
 Bangunan itu dapat mengikuti dan menampung tuntutan kegiatan yang senantiasa berkembang
 Bangunan tersebut senantiasa dapat melayani perubahan perwadahan kegiatan, disini perlu dipikirkan kelengkapan yang menunjang proses berlangsungnya kegiatan
 Adanya kemungkinan penambahan ataupun perubahan pada bangunan tanpa mengganggu bangunan yang ada dengan jalan perencanaan yang matang.
• Futuristic sebagai core values atau nilai-nilai dasar BMW mengandung nilai-nilai yaitu; dinamis, estetis dan inovatif terutama dari segi teknologi yang dipakai (dinamis, canggih dan ramah lingkungan) dengan mengadopsi bentuk-bentuk bebas yang tidak terikat oleh bentuk-bentuk tertentu.
• Dalam futuristic juga perlu dipikirkan mengenai estimasi atau perkiraan
 Pengenalan akan bangunan futuristic dapat dilakukan dengan pendekatan :
Pendekatan sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia.
Salah satu carauntuk memprediksi tentang arsitektur masa depan adalah dengan mengikuti perkembangan arsitektur berteknologi tinggi yang berkembang setelah tahun 1960-an dengan cirri-ciri :
 Kebenaran struktur
 Bentuk bebas cenderung ke bentuk yang berhubungan dengan alam.
Tabel perkiraan konsep futuristic :
Dari analisa contoh-contoh bangunan pada table di atas, maka dapat disimpulkan:
 Proyeksi yang berupa hasil perhitungan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
 Pendekatan dengan penemuan hal-hal yang baru.
 Futuristic adalah lambing perubahan, dinamis dan menembus ruang tidak nampak.
Dalam ilmu arsitektur,teminologi arsitektur futuristic masih rancu atau belum dapat digolongkan ke dalam criteria arsitektur modern, late modern maupun post modern. Late modern iotu sendiri adalah mengambil ide dan bentuk dari modern movement, yang ditampilkan secara ekstrim, berlebihan dan tidak natural. Imajinasi tentang teknologi bangunan menggambarkan usaha untuk mencapai kesenangan dan keindahan semata, sedangkan post modern menyelesaikan kemonotonan arsitektur modern dengan menggabungkan unsure-unsur moder dengan lainnya sehingga bersifat ganda.
Pedoman Perencanaan Berdasarkan Ungkapan Futuristik
Dengan melihat pengerian futuristic yang ada, maka diambil kesimpulan pedoman dalm perencanaan berdasarkan ungkapan futuristic, yaitu :
• Mempunyai konsep masa depan terutama sesuai dengan paradigma perkembangan arsitektur.
Bentuk yang didapat bukan bentuk-bentuk tertentu saja, tetapi bentuk bebas yang dekonstruksi.
• Memanfaatkan kemajuan di era teknologi melalui struktur dan konstruksi menggunakan strutur yang dekonstruksi.
• Memakai bahan-bahan pre-fabrikasi dan bahan-bahan baru, seperti kaca baja aluminium, dll
• Memunculkan bentuk-bentuk baru dari arsitektur yang analog dengan musim, maksudnya adalah bentuk yang tidak bisa diduga sebelumnya, dinamis sebagai konsekuensi dari perubahan.




HIGH TECH ARCHITECTURE


HIGH TECH ARCHITECTURE

(by Sebastian)

 Semua Arsitek high tech setuju untuk satu hal, yaitu mereka membenci ungkapan “high tech” untuk sebutan langgam yang mereka gunakan. Ada 3 alasan mengapa mereka tidak menyukai ungkapan tersebut, yaitu :

• Pada awal tahun 1970-an ungkapan high tech sering digunakan untuk menyebutkan bangunan yang secara eksterior menggunakan teknologi tinggi, sehingga arsitektur high tech memiliki makna arsitektur yang fashionable.
• Ungkapan high tech merupakan ungkapan yang ambigu. Dalam arsitektur pengertian high tech berbeda dengan high tech pada industri, high tech pada arsitektur berarti sebuah bagian dari langgam yang diterapkan pada bangunan.
• Di Amerika high tech merupakan langgam namun Arsitek high tech Inggris membenci kata langgam sebagaimana mereka membenci ungkapan “high tech”. Di Inggris ungkapan high tech lebih kaku.
Jadi apa definisi dari ungkapan high tech itu sendiri?. Secara implisit high tech mengungkapkan beberapa istilah antara lain, fungsi dan representasi - teknik atau langgam, masalah produksi massal, struktur dan servis – kebanggaan atas teknologi, ruang dan fleksibilitas – “omniplatz”, dan penyambungan “pod”– strategi praktis. Untuk sekarang kita hanya bisa meyimpulkan karakter material yang digunakan adalah baja dan kaca .
 Dalam bukunya “ Arsitektur Modern Akhir Abad XIX dan Abad XX” Yulianto Sumalyo menyebut arsitektur high tech sebagai arsitektur techno-arthistic rancangan dengan teknologi pabrikasi lebih besar dan lebih maju dengan konstruksi utama metal atau logam. Arsitektur tidak lagi mengambil bentuk scluptural abstrak seperti pada arsitektur monumental dari beton. Bahan-bahan pabrikasi ditonjolkan baik pada ruang dalam maupun luar, sehingga bahan, struktur, system dan sub system struktur, konstruksi dan dekorasi secara integral menampilkan bentuk arsitektur yang berkarakter khusus. Yang dapat dilihat karena exposed dan menjadi bagian dari dekorasi, tidak saja elemen-elemen konstruksi tetapi juga semua elemen bangunan seperti tangga, koridor, mekanikal, dll .
 Suatu style (langgam) yang secara ekspresif menekankankan bahkan meng-ekspos rancangan pada struktur, teknologi dan servis. Beberapa ada yang mengatakan bahwa high tech itu identikdengan besi /logam C-19 dan struktur kaca. 
   
PEDOMAN PERENCANAAN BERDASARKAN UNGKAPAN HIGH TECH
1. Fungsi dan Representasi – Antara Teknik dan Style (langgam)
• Arsitektur high tech sebagai pengejewantahan dan simbolisasi dari sebuah teknologi bukan merupakan sebuah solusi yang efisien, karena teknologi bukanlah suatu hal yang murah jika dibandingkan dengan bangunan yang menerapkan tembok biasa (konvensional).
• Dalam high tech simbolisasi dan representasi memiliki peranan penting. Eksposed struktur baja, duct AC yang terlihat, sistem bongkar pasang pod, dsb merupakan karakter dalam arsitektur high tech, namun hal itu semua bukan merupakan solusi yang masuk kategori ekonomis.
• Arsitektur high tech tidaklah murni fungsional namun juga tidak representatif, bahkan ada sebuah artikel yang memuat tentang high tech bahwa setiap desain yang diputuskan haruslah memiliki nilai fungsional.  
2. Produksi Massal 
• Material sintetis yang memberikan karakter tertentu pada arsitektur high tech seperti logam, kaca dan plastik merupakan material yang diproduksi secara massal, bangunannya mungkin tidak tetapi komponen-komponennya merupakan mass product. Sehingga terlihat sebagai pengulangan dari material-material tersebut.
• The Mass Production Problem. Merupakan hambatan yang dihadapi Arsitektur manakala mencoba mengadaptasi metode-metode dan produk dari industri manufaktur.
Mobil mampu dibuat berjuta-juta sedangkan bangunan paling tidak hanya satu. Akankah arsitektur menerapkan teknologi yang sama pada produksi mobil yang mampu menghabiskan banyak waktu dan uang, tentu tidak, kecuali memang akan merancang beribu-ribu bangunan yang tipikal.  
• Kolaborasi antara Arsitek dan Desainer produk menentukan dalam perancangan, seperti contoh kasus pada pembangunan Hongkong Bank Headquarters – Norman Foster, dimana semua elemen utama bangunan di desain, dikembangkan serta diuji bersama oleh Arsitek dan pembuat (manufacturer). Norman Foster menyebutnya “Design Development”.  
3. Struktur dan Servis – Kebanggaan atas Teknologi
• Exposed struktur dan servis merupakan dua hal yang paling kentara menjadi keistimewaan pada arsitektur high tech, walaupun tidak semua Arsitek melakukan hal itu dalam rancangannya. 
• Struktur baja dalam arsitektur high tech menjadi power of structure yang ekspresif, baja merupakan salah satu material bangunan yang memiliki daya tegang yang kuat, mampu memberikan kesan dramatis pada elemen-elemen bangunan. 
4. Ruang dan Fleksibilitas
• Bermacam-macam elemen pada bangunan high tech seperti rangka struktur baja, the smooth, imperious skin, exposed pipa dan duct telah memberikan ekspresi yang kuat berdasarkan fungsi teknisnya.
• Penciptaan ruang dalam high tech tidak pernah menjadi isu (masalah) yang berarti, namun lebih ditekankan pada teknis penciptaan ruang yang fleksibel. Sehingga seakan-akan dalam rancangannya Arsitek hanya menyediakan hamparan plat “omniplatz”.
• Ruang tidak bisa hanya memiliki satu fungsi karena keseluruhan desain dirancang untuk sebuah ke-fleksibilitas-an. Filosofi high tech meletakkan fleksibilitas satu tahap lebih dalam. 


5. Penyambungan (plug-in pod) – Sebuah Strategi Praktis
• Merupakan peralatan dalam high tech yang mampu memadukan fleksibilitas, demountability, daya tahan dan produksi massal. 
• Plug-in pod (penyambungan pod) atau lebih tepat pemasangan dalam hal ini adalah pemasangan kotak atau ruang yang merupakan produk manufaktur ke dalam bangunan, biasanya merupakan kotak toilet. Jadi toilet tersebut bukan merupakan bagian dari bangunan karena dapat di bongkar pasang.  
• 3 keuntungan dengan menggunakan sistem ini. Pertama, mempercepat pelaksanaan proyek. Kedua, dapat menjaga kualitas produk. Ketiga, karena MEE telah ditanam atau diletakkan di bawah tanah dengan jalur ke semua arah, sehingga mudah untuk dirubah.  
6. Tipologi High Tech
• Tipikal bangunan high tech adalah menyerupai bangunan pabrik, sehingga muncul anggapan, bangunan dengan tipikal pabrik adalah arsitektur high tech.




STRUKTUR KABEL


STRUKTUR KABEL
Ada jenis-jenis struktur yang telah banyak digunakan oleh perencana gedung, yaitu struktur pelengkung dan struktur kabel. Kedua jenis struktur yang berbeda ini mempunyai karakteristik dasar struktural yang sama, khususnya dalam hal perilaku strukturnya.

Kabel yang mengalami beban eksternal tentu akan mengalami deformasi yang bergantung pada besar dan lokasi beban eksternal. Bentuk yang didapat khusus untuk beban itu ialah bentuk funicular ( sebutan funicular berasal dari bahasa Latin yang berarti “tali”). Hanya gaya tarik yang dapat timbul pada kabel. Dengan membalik bentuk struktur yang diperoleh tadi, kita akan mendapat struktur baru yang benar-benar analog dengan struktur kabel, hanya sekarang gaya yang dialami adalah gaya tekan. Secara teoritis, bentuk yang terakhir ini dapat diperoleh dengan menumpuk elemen-elemen yang dihubungkan secara tidak kaku (rantai tekan) dan struktur yang diperoleh akan stabil. Akan tetapi, sedikit variasi pada beban akan berarti bahwa strukturnya tidak lagi merupakan bentuk funicular sehingga akan timbul momen lentur dan gaya geser akibat beban yang baru ini. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya keruntuhan pada struktur tersebut sebagai akibat dari hubungan antara elemen-elemen yang tidak kaku, tidak dapat memikul momen lentur. Karena bentuk struktur tarik dan tekan yang disebutkan di atas mempunyai hubungan dengan tali tergantung yang dibebani, maka kedua jenis struktur disebut sebagai struktur funicular.

Banyak bangunan yang menggunakan struktur funicular. Sebagai contoh, jembatan gantung yang semula ada di Cina, India, dan Amerika Selatan adalah struktur funicular tarik. Ada struktur jembatan kuno yang menggunakan tali, ada juga yang menggunakan bambu. Di Cina ada jembatan yang menggunakan rantai, yang dibangun sekitar abad pertama SM. Struktur kabel juga banyak digunakan pada gedung, misalnya struktur kabel yang menggunakan tali. Struktur ini dipakai dipakai sebagai atap amfiteater Romawi yang dibangun sekitar tahun 70 SM.

Sekalipun kabel telah lama digunakan, pengertian teoretisnya masih belum lama dikembangkan. Di Eropa, jembatan gantung masih belum lama digunakan meskipun struktur rantai-tergantung telah pernah dibangun di Alpen Swiss pada tahun 1218. Teori mengenai struktur ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1595, yaitu sejak Fausto Veranzio menerbitkan gambar jembatan gantung. Selanjtnya pada tahun 1741 dibangun jembatan rantai di Durham County, Inggris. Jembatan ini mungkin merupakan jembatan gantung pertama di Eropa. 

Titik balik penting dalam evolusi jembatan gantung terjadi pada awal abad ke-19 di Amerika, yaitu pada saat James Findley mengembangkan jembatan gantung yang dapat memikul beban lalu lintas. Findley membangun jembatannya untuk pertama kali pada tahun 1810 di Jacobs Creek, Uniontown, Pennsylvania dengan menggunakan rantai besi fleksibel. Inovasi Findley bukanlah kabelnya, melainkan penggunaan dek jembatan yang diperkaku yang pengakunya diperoleh dengan menggunakan rangka batang kayu. Penggunaan dek kaku ini dapat mencegah kabel penumpunya berubah bentuk sehingga bentuk permukaan jalan juga tidak berubah. Dengan inovasi ini dimulailah penggunaan jembatan gantung modern.

Inovasi Findley dilanjutkan oleh Thomas Telford di Inggris dengan mendesain jembatan yang melintasi selat Menai di Wales (1818-1826). Louis Navier, ahli matematika Prancis yang amat terkenal, membahas karya Findley dengan menulis buku mengenai jembatan gantung, Rapport et Memoire sur les Ponts Suspends, yang diterbitkan pada tahun 1823. Navier dalam bukunya sangat menghargai karya Findley dalam hal pengenalan dek jembatan kaku.

Segera setelah inovasi Findley, banyak jembatan gantung terkenal lainnya dibangun, misalnya jembatan Clifton di Inggris (oleh Isombard Brunel) dan jembatan Brooklyn (oleh John Roebling). Banyak pula jembatan modern yang dibangun setelah itu, misalnya yang membentangi Selat Messina dengan bentang tengah sekitar 5000 ft (1525 m) dan jembatan Verazano-Narrows yang bentang tengahnya 4260 ft (1300 m).

Penggunaan kabel pada gedung tidak begitu cepat karena pada saat itu belum ada kebutuhan akan bentang yang sangat besar. Meskipun James Bogardus telah memasukkan proposal kepada Crystal Palace pada New York Exhibition pada tahun 1853, yang mengusulkan atap gedung berbentuk lingkaran dari besi tuang berdiameter 700 ft (213 m) digantung dari rantai yang memancar dan ditanam pada menara pusat, struktur pavilyun pada pameran Nijny-Novgorod yang didesain oleh V. Shookhov pada tahun 1896 dianggap sebagai awal mulanya aplikasi kabel pada gedung modern. Struktur-struktur yang dibangun berikutnya adalahpavilyun lokomotif pada Chicago World’s Fair pada tahun 1933 dan Livestock Judging Pavillion yang dibangun di Raleigh, North Carolina pada sekitar tahun 1950. sejak itu sangat banyak dibangun gedung yang menggunakan struktur kabel.





STRUKTUR MEMBRAN





STRUKTUR MEMBRAN
Membran adalah suatu lembaran bahan tipis sekali dan hanya dapat menahan gaya tarik murni. Soap film adalah membran yang paling tipis, kira-kira 0,25 mm yang dapat membentang lebar. Suatu struktur membran dapat bertahan daalm dua dimensi, tidak dapat menerima tekan dan geser karena tipisnya terhadap bentangan yang besar.

Beban-beban yang dipikul mengakibatkan lendutan, karena membran adalah bidang dua dimensi dan karena merupakan jala-jala yang saling membantu, maka bertambahlah kapasitasnya.

Ada dua karakter dasar dari kemampuan membran. Tegangan membran terdiri atas tarik dan geser, yang selalu ada dalam permukaan bidang membran dan tidak tegak lurus di atas bidang itu. Aksi membran pada dasarnya tergantung dari karakteristik bentuk geometrinya, yaitu dari lengkungan dan miringnya bidang membran.
Walaupun membran tidak begitu stabil, dapat dicarikan jalan untuk dimanfaatkan sebagai struktur. Keuntungan struktur ini ialah ringan, ekonomis dan dapat membentang luas.

Aksi struktur membran dapat ditingkatkan daya tariknya dengan tarikan sebelum pembebanan. Sebagai contoh payung dari kain.

Dengan mengadakan pratarik pada kain yang kemudian dikuncinya dengan alat apitan, rusuk-rusuk baja membuka dan mendukungnya dengan dibantu oleh batang-batang tekan yang duduk pada tangkai payung. Kain tertarik dan memberi bentuk lengkungan yang cocok untuk menahan beban. Membran kain payung dapat menerima tekanan dari luar dan dalam.
Skelet dari rusuk-rusuk baja menerima tarikan dari kain dan memperkuat seluruh permukaan bidang terhadap tekanan angin.

Struktur Pneumatik
Membran dapat diberi pra tegang dengan tekanan dari sebelah dalam apabila menutup suatu volume atau sejumlah volume yang terpecah-pecah. Dengan cara ini tersusunlah struktur pneumatik. Embran mudah menjadi bengkok dan dapat mudah ditekan oleh gas atau udara. Dalam tyeori, membran tanpa pra tegang dapat membentangi ruangan yang besar sekali dengan tekanan udara yang mengimbangi beratnya sendiri dari membran yang mengambang. Dalam praktek, membran perlu diberi prategang supaya menjadi stabil terhadap pembebanan yang tak simetris dan yang dinamis.

Stabilitas bentuk konstruksi ini dikendalikan oleh 2 faktor. Kesatu : tekanan pada tiap titik dari membran yang menyebabkan tegangan tarik harus cukup untuk menahan semua kondisi pembebanan dan untuk menjaga agar tidak terdapat tegangan tekan pada membaran. Kedua : tegangan membran pada setiap titik dengan kondisi pembebanan harus lebih kecil daripada tegangan yang diperkenankan pada bahan.

Bentu struktur pneumatik adalah karakteristik merupakan lengkungan dua arah dari lengkungan sinplastik. Bentuk dengan lengkungan searah dan lingkungan anti klasik tidak mungkin digunakan .

Lengkungan kubah adalah bentu yang cocok untuk struktur membran pneumatik, karena dapat menutupu ruangan dan dapat ditekan oleh udara yang besarnya atau kecepatannya sama kesemua arah.
Tegangan membran dalam bola atau dalam kubah tergantung pada tekanan udara dari dalam dan garis radius, yakni o = ½ . p .r (p = tekanan udara, r = radius kubah ). 


STRUKTUR LIPATAN


(by sebastian)

STRUKTUR LIPATAN 

Bentuk-bentuk ini sehari-hari banyak terlihat dan ditemukan di sekelililng kita. Jauh sebelum bentuk ini dikembangkan oleh daya kreasi manusia, bentuk struktur lipatan pada alam sebenarnya telah ada.

Bentuk lipatan ini mempunyai kekakuan yang lebih dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang datar dengan luas yang sama dan dari bahan yang sama pula. Hal ini dapat dijelaskan , karena momen energia yang didapat dari bidang datar. Dari hasil perhitungan untuk bentuk lipatan harga momen energia :I = 1/12bh3, sedangkan untuk bidang datar : I = 1/12hb3. dengan terbentuknya lipatan ini, gaya-gaya akibat berat sendiri dan gaya-gaya luar dapat di tahan oleh bentuk itu sendiri.

Maka disini dapat kita ambil suatu pengertian, yaitu : bentuk yang terjadi dari lipatan bidang-bidang dimana kekakuan dan kekuatannya terletak pada keseluruhan bentuk itu sendiri.

Konstruksi lipatan 
Berdasarkan bentuk-bentuk pada alam, manusia mencoba untuk mempergunakan bentuk itu sebagai kebutuhan. Dengan bekal yang dimiliki manusia, maka konstruksi lipatan dikembangkan pula, baik dalam bentuknya maupun bahan yang dipergunakan. Bentuk lipatan ini sekarang banyak dipergunakan untuk dinding, atap, lantai, bangunan dengan berbagai bentuk dan bahan.

Penyaluran gaya
Sebelum kita meninjau penyaluran gaya pada konstruksi lipatan, terlebih dahulu kita meninjau gaya pada bentuk datar. Dalam satu bidang datar semua gaya yang bekerja dapat diuraikan menjadi :
Gaya sejajar budang dan gaya tegak lurus budang. Gaya sejajar bidang akan lebih kuat dipikul bidang daripada jika gaya dengan besar yang sama tersebut bekerja tegak lurus.

Selain tiu bidang datar lebih mudah jatuh dibanding bentuk lipatan. Hal ini disebutkan tidak adanya titik kumpul penahan gaya dan setiap titik menjadi penahan gaya dan momen. Jika gaya tersebut bekerja pada lipan, maka akan terjadi sebagai berikut :
Gaya dengan arah memanjang akan dipikul oleh bidang datar dari lipatan. Gaya dengan arah melintang, yang diuraikan menjadi 2 gaya dimana masing-masing besarnya lebih kecil daripada gaya arah melinyang tersebut.

Untuk gaya P yang bekerja pada tengah-tengah bidang, gaya diuraikan menjadi gaya sejajar bidang dan gatya tegak lurus. Sedangkan untuk gaya P yang bekerja pada rusuk-rusk lipatan (garis lipatan) akan diuraikan sejajar pada masing-masing bidang datar yang bersisian itu. Besarnya kemiringan bidang datar dari lipatan ini mementukan pula besarnya uraian dari gaya yang bekerja. 

Dari uraian gaya tersebut ternyata bidang lipatan akan lebih kuat memikul gaya-gaya, baik yang arah melinyang maupun memanjang dari pada bidang datar. Karena gaya P yang diuraikan dengan arah sejajar bidang akan dipikul bidang itu sendiri, maka beban P yang harus dipikul oleh konstruksi jadi kecil.

Untuk menjaga perubahan bentuk lipatan, maka perlu untuk mempertahankan jarak h dan b serta tebal d. gaya P yang bekerja pada rusuk (B) dan (C) dan gaya H yang bekerja pada rusuk (A) akan mengakibatkan perubahan besar pada jarak b dan h. karena itu rusuk-rusuk (A), (B), (C), harus dipegang dan ditahan dengan jalan : tumpuan dipegang teguh, atau rusuk merupakann sesuatu yang kaku. Jadi disini dapat diterangkan bahwa sebenarnya menahan gaya-gaya adalah tiap-tiap bidang, sedangkan rusuk-rusuk berfungsi sebagai pemegang dan pengaku bidang. Bidang lipatan ini ada kemungkinan akan dapat melentur, tergantung panjang L. untuk harga h dan b panjang L harus ditentukan supaya tidak terjadi lenturan tersebut.

Pada tempat-tempat mencapai penjang L tersebut, diadakan bidang pengaku yang menahan terjadinya lenturan. Momen lentur yang terjadi ini adalah akibat beban merata pada lipatan atau akibat berat sendiri. Besarnya momen yang terjadi tergantung dari besarnya sudut. Makin besar sudutnya makin besar momen yang terjadi. Menurut pengalaman, sudut yang paling efektif adalah 45o.

Dari uraian gaya yang telah diterangkan, dapat disimpulkan bahwa pada konstruksi lipatan yang sangat perlu diperhatikan ialah : pencegahan adanya deformasi dan kekakuan harus dicapai. 

Untuk dapat mencapai maksud di atas, harus diperhatikan : sudut lipatan, tinggi lipatan, tebal bidang datar lipatan, bidang pengaku, rusuk lipatan harus kaku dan tumpuan harus kokoh. Dapat ditambahkan pula bahwa untuk bentuk lipatan terbuka, sudut lipatan harus lebih kecil dari 40o untuk mendapatkan deformasi yang kecil. Sedangkan untuk bentuk lipatan yang tertutup sudutnya agak bebas dan terikat.




Kelahiran Arsitektur Jengki


Kelahiran Arsitektur Jengki

Pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan sekitar tahun 1950-1960-an.
Sebagai hasil dari kemerdekaan. Timbul semangat pembebasan diri dari
segala hal yang berbau kolonialisme. "Dilain sisi, kemerdekaan
itu terjadi pada saat kita tidak memiliki tenaga ahli asing",
jelas Ir. Joseph. Tenaga ahli asing yang ada sebagian besar orang
Belanda. Karena adanya pertikaian antara Indonesia dengan Belanda
mengenai Irian Jaya, mereka harus meninggalkan Indonesia. 
Pembangunan tidak boleh berhenti. "Sementara itu timbul keinginan
kuat untuk menampilkan jati diri bangsa yang merdeka", tutur arsitek
yang akrbat dipanggil pak Joseph ini. Dalam keadaan yang serba
sulit ini, pemerintah Indonesia memanfaatkan siapa saja yang
mampu bekerja dibidang konstruksi. Kebetulan kemampuan bekerja
ini dimiliki oleh mereka yang pernah bekerja di perusahaan 
konstruksi pada masa pendudukan. Misalnya kantor Pekerjaan Umum,
Biro Arsitek atau Kontraktor Belanda. Kebanyak dari mereka hanya
lulusan STM. Sebab lembaga pendidikan yang dimiliki untuk mendidik
ahli bangunan pada masa itu hanya sampai tingkat STM. Mereka 
inilah yang dipaksa melakukan pembangunan. Karena hanya lulusan
STM, tentu saja ilmu arsitektur mereka tidak seperti yang sarjana.
Tetapi keuntungan yang mereka peroleh pada masa itu, STM pada masa
itu juga diajarkan dasar-dasar ilmu arsitektur. "Inilah yang
menjadi pegangan para lulusan STM pada masa itu" tambah pak Joseph.

Para tenaga ahli dadakan ini punya kesempatan untuk menunjukkan
skil ke Indonesia-annya. Namun didalam hati, mereka juga
mempertanyakan ilmu arsitektur yang dimiliki. Usaha mempertanyakan
ini tidak sempat mereka renungkan. Tetapi harus segera ditunjukkan
dengan jawabannya. Karena mereka harus langsung bekerja. Pada 
waktu itu, semangat nasionalisme yang kuat sedang tumbuh disetiap 
hati rakyat Indonesia, termasuk para ahli dadakan ini. Dengan
landasan nasionalisme yang kuat, timbul usaha untuk tidak
membuat apa yang telah dibuat Belanda. Dengan kata lain tidak
boleh seperti itu. "Nah, itulah yang mendasari lahirnya Arsitektur
Jengki" kata pak Joseph.

Ciri-ciri Arsitektur Jengki
Langgam arsitektur Kolonial pada waktu itu banyak didominasi
oleh bidang-bidang vertikal dan horisontal. Langgam Arsitektur
Jengki justru berlawanan. Arsitektur Jengki bermain dengan garis
lengkung dan lingkaran. Misalnya, jendela yang tidak simetris,
overstek yang meliuk-liuk, garis dinding yang dimiringkan.
Bentuk-bentuk yang tidak semestinya pada masa itu. "Arsitektur
Jengki hanya mengolah perwajahan bangunan, baik itu luar maupun
dalam", jelas pak Joseph lagi. Selain wajah bangunan, juga
perabot rumah. Misalnya meja tamu dan kursinya. Bentuk tata
ruangnya masih mengikuti tata ruang bangunan Kolonial. Hal ini
terjadi karena keterbatasan ilmu arsitektur tadi.

Arsitektur Jengki juga mempergunakan bahan-bahan bangunan asli
Indonesia. Bahan yang dipergunakan harus bahan jadi, tidak
boleh mentah maksudnya dari perancangannya ketika itu. Untuk
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri
bahan bangunan yang diperlukan. Hasilnya adalah permukaan
bangunan yang dikasarkan, misalnya. Dikasarkan bukan kerikil,
karena kerikil yang diolah semacam itu buatan Belanda.
Permukaan kasar dibuat dari semen yang disemprotkan ke dinding
dan pemakaian roster. Pada bagian penutup atap juga diolah
sedemikian rupa. Kalau pada waktu itu bangunan Jengki dibuat
seperti jambul. "Sepertinya sengaja menghilangkan yang berbau
Belanda. Sehingga saya dapat mengambil kesimpulan bahwa
Arsitektur Jengki murni hasil pemikiran bangsa Indonesia.
Saya juga mencoba melihat literatur luar negeri kalau mungkin
ada satu langgam yang dipakai untuk Arsitektur Jengki. Ternyata
tidak ada", tambahnya. Melihat hal ini pak Joseph mengambil
kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki adalah murni karya bangsa
Indonesia. Tidak berkiblat kepada aliran arsitektur manapun
di dunia termasuk juga Arsitektur Nusantara (kata Indonesia
ada setelah 17 Agustus 1945).

Semangat dekoratif yang dimiliki oleh para arsitek pada saat
itu cukup kuat dan bagus. Unsur dekoratif inilah yang oleh
pak Joseph dianggap mewakili arsitektur Nusantara. Kalau kita
perhatikan, pada setiap arsitektur tersebut? Dekoratifnya.
Jadi Arsitektur Jengki menghadirkan Arsitektur Nusantara lewat 
unsur ini. Bukan lewat bentuk. "Semangat Bhineka Tunggal Ika
hadir melalui arsitektur Jengki. Oleh sebab itu saya dapat
mengatakan bahwa Arsitektur Jengki adalah arsitektur Indonesia
yang pertama", tegas arsitek alumni ITS tahun 1976 ini.

Contoh bangunan dengan arsitektur Jengki ini dapat kita lihat
pada rumah-rumah dikawasan Kebayoran Baru untuk Jakarta. Di
Surabaya misalnya Stadion Gelora Pancasila, Pabrik Coklad di
Jl. Kalisari dan rumah tinggal di Jl. Embong Ploso 12 (saat
tulisan ini dibuat sudah dirobohkan). Biasanya unsur Jengki
lebih banyak hadir pada bangunan rumah tinggal. Mengenai hal
ini pak Joseph menambahkan, "tidak adanya dana untuk membangun
menyebabkan lebih banyak rumah tinggal". Hal ini juga diakui
oleh Van Lier Dame ketika berjumpa dengan beliau. Van Lier Dame
pada sekitar tahun 1950 bekerja di Indonesia sebagai arsitek.
Dia mengakui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia
ketika itu adalah kelangkaan bahan dan kemiskinan uang. 
Sehingga merekapun dituntut bekerja secara efisien.

Mengapa Disebut Jengki?
Ada beberapa pendapat mengapa langgam ini disebut Jengki.
Misalnya dari kata Yangkee, sebutan untuk tentara Amerika dalam
arti yang negatif. Namun arsitek Malang 48 tahun silam ini
mengambil dari sebuah metode pakaian pada waktu itu, seperti
misalnya celana Jengki, baju jengki, mode yang sedang trend
sekitar tahun 50-an.

Saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya
banyak sekali hadir bangunan dengan langgam yang mirip
dengan Jengki. Menjawab pertanyaan ini, Pak Joseph menjelaskan 
bahwa tidak bisa disamakan. Mengapa? karena arsitektur Jengki
ketika itu merupakan pembongkaran terhadap arsitektur Belanda.
Kalaupun ingin disebut sebagai dekonstruksi, maka yang kita
lihat sekarang ini adalah dekonstruksi babak II. Langgam yang
hadir melalui tangan-tangan arsitek muda ini oleh pak Joseph
dikatakan beraliran Lead Modern. Arsitektur Jengki hadir
pada masa itu karena semangat ingin bebas dari pengaruh
kolonial, sedang bentuk-bentuk yang hadir sekarang ini tentu
hadir dengan semangatnya sendiri.

Arsitektur Jengki pernah hadir menambahkan khasanah arsitektur
Indonesia. Lahir oleh karena keadaan yang memaksa. Kalau sampai
saat ini kita masih disibukkan dengan mencari bentuk arsitektur
Indonesia (yang ke-2?) dan belum menemukannya, mungkinkah
karena semangat, tujuan dan keadaan yang mendasarinya berbeda?
Jawabannya terletak pada jati diri kita masing-masing yang
sekarang ini mengaku dirinya sebagai Arsitek Indonesia.



Rabu, 29 Juli 2009

TIPS OF THE DAY 1





Kesederhanaan desain SD Mangunan

SD. Mangunan, Kalitirto, Berbah, Jogjakarta
 SD Kanisius Mangunan ini merupakan SD alternatif yang mengadopsi home-schooling, menghadirkan sekolah sebagai rumah kedua. Bangunan sekolah beratap pelana memanjang berdampingan dengan asrama arita yang mirip dengan bangunan pada kampung Code dan Sendangsono. Konstruksi dari kayu dan bilik-bilik bambu, dengan atap seng pada bangunan sekolahnya. Sedangkan wisma atau asrama arita beratap genteng. Ciri bangunan Mangunwijaya pada bangunan ini adalah terdapatnya 6 tiang kolom dengan dimensi 2 x (3x3 m2). Pola desain sekolah yang bersahabat dengan lingkungan masyarakat sekitarnya tidak menimbulkan kesan kontradiktif.

Pola belajar dengan kurikulum baru 75% Kanisius Mangunan dan 25% kurikulum nasional. Guru dan murid saling komunikatif dan guru mengikuti pertumbuhan psikologis dari anak. Sehingga membuat pola ruang yang terbentuk di sekolah ini berbeda dengan sekolah pada umumnya. Pola tempat duduk merupakan pola diskusi kelompok berbentuk U, dimana guru berbaur sangat dekat dengan para murid. 

Bangunan sekolah ini sangat sederhana sekali. Terdiri dari sekat-sekat ruang dari bilik dan papan kayu. Kuda-kuda kayu terekspose karena tidak tertutup adanya plafond. Ventilasi cukup lebar dan panjang. Ventilasi atau jendela terbuka keatas atau ke samping dengan engsel di tengah dan hampir membagi di tengah-tengah kusen, menyerupai sirip. Lantai ubin dengan tekstur atau cetakan yang mirip anyaman bilik bambu




Selasa, 28 Juli 2009

CERITA WISATA DARI GAJAH MUNGKUR



(by sebastian)

Waduk Gajah Mungkur

1. Lokasi Waduk Gajah Mungkur sekitar 6 km dari Arah Barat Daya Wonogiri. 
2. Sejarah terbangunnya Waduk Gajah Mungkur :
Sebelum tahun 1966 di daerah sepanjang Sungai Bengawan Solo sering terjadi banjir, dan untuk menanggulanginya dibangunlah Waduk Gajah Mungkur yang menenggelamkan 51 desa. Hal ini juga sesuai dengan program pemerintahan saat itu (orde baru), dimana banyak waduk yang dibangun di beberapa daerah, seperti Waduk Karangkates, Waduk Kedung Ombo, Waduk Jati Luhur, dan salah satunya adalah Waduk Gajah Mungkur. Walaupun sebetulnya pembangunan Waduk ini sudah diprogramkan sejak zaman Belanda. 
Untuk Pembangunan Waduk Gajah Mungkur ini, dilakukan survey-survey pendahuluan yang selesai pada tahun 1983, tetapi pada tahun 1980, Waduk tersebut sudah mulai dialiri.
3. Asal nama Waduk Gajah Mungkur
Mungkin selama ini kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa nama Waduk Gajah Mungkur diambil dari Gunung Gajah Mungkur yang berada di sebelah Waduk. Jika memalaki nama desa atau kecamatan yang dibenamkan untuk pembuatan waduk tersebut , maka hal tersebut sangat tidak mungkin, karena ada beberapa kecamatan dan puluhan desa yang turut “disumbangkan” untuk proyek ini.
Kalau kita kebetulan mengunjungi waduk ini maka Gunung Gajah Mungkur dapat diamati dari monumen Bedhol Desa yang ada disebelah Timur bendungan. Tempat lain yang bisa digunakan untuk melihat gunung tersebut adalah dari daerah Nguter Sukoharjo. Menurut beberapa orang di sana dinyatakan gunung itu akan nampak jelas seperti wujud gajah ketika masih hijau namun ketikas musim kemarau dan gersang maka gunung itu tidak nampak jelas seperti Gajah Mungkur.
Nama Gajah Mungkur sendiri dapat diartikan sebagai sosok seekor gajah yang nampak dari belakang. Jadi gunung tersebut seperti “pantat” gajah yang mungkur (membelakangi).
Gunung tersebut seiring dengan pembuatan waduk serba guna dan ternyata memakai nama yang sama atau mungkin diambilkan dari nama gunung itu, tetapi yang terkenal justru Gajah Mungkur sebagai nama bendungan serba guna yang ada.

Potensi...............
Pengembangan potensi pariwisata di kawasan Waduk Gajah Mungkur dibagi dalam beberapa segmen wilayah, hal ini dikarenakan luasan dari Waduk Gajah Mungkur yang terlalu luas untuk dikembangkan menjadi satu kawasan wisata sekaligus. Pengembangan potensi waduk yang telah dilaksanakan oleh pemerintah setempat adalah :
1. PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dengan pemanfaatan elemen terbesar dari Waduk Gajah Mungkur, yaitu air waduk.
2. Sendang Asri , yaiu sendang (danau) yang dikembangkan menjadi obyek wisata dengan disertai fasilitas-fasilitas penunjangnya.
3. Karamba, merupakan pembudidayaan ikan air tawar pada jala yang ditebar di dalam waduk dan Restoran Terapung, yaitu restoran yang ditempatkan di atas danau.
4. Green Belt, pengembangan pariwisata oleh Pemda Dati II Wonogiri dengan pemanfaatan jalur hijau.
5. Asem Legi, pengembangan spot pariwisata pada kawasan Waduk Gajah Mungkur yang saat ini sedang dikembangkan.





TEORI TENTANG KOTA


(by sebastian)

A. Pengertian Teori Kota

1. Struktur ruang kota
Struktur ruang kota merupakan susunan bentuk dan pola ruang kehidupan kota yang terdiri dari komponen:
a. Area kota, meliputi besaran luas, bentuk dan kondisi fisik (alam buatan).
b. Jaringan (jalan), meliputi pola jaringan dan hirarki jaringan. 
c. Fungsi, meliputi kegiatan (primer, sekunder, tertier) dan pelayanan (lokal, regional nasional, dan internasional)

2. Bentuk kota
Bentuk kota merupakan wujud ruang yang merupakan organisasi spasial dan geografinya, terdiri dari faktor-faktor: besaran/ luas, jumah dan kepadatan penduduk, organisasi jalan dan tempat, tekstur dan pencapaian.

3. Elemen pembentuk kota
a. Path ways (jalur pergerakan/ sirkulasi)
b. Districts (lingkungan bagian kota)
c. Edges (akhiran/ tepian sebuah distrik)
d. Landmark (bentuk-bentuk visual yang menonjol di kota)
e. Nodes (pusat-pusat aktivitas)

4. Pola kota
Pola kota merupakan corak/ model yang tercermin dari jaringan jalan, open space dan bangunan yang membentuk kerangka kota.

B. Citra dan guna arsitektur kota
Dua dimensional selalu ada di dalam arsitektur atau lingkungan binaan yaitu:
Dimensi fungsi (kegunaan) dan dimensi citra (image). Dimana dimensi fungsi menyangkut daya sehingga kehidupan menusia menjadi lebih meningkat. Sedangkan dimensi citra adalah kesan terhadap objek tertentu karena kejelasan pengaruh visual dan pengaruh spiritual (arti yang terkandung dalam objek tersebut). Jadi arsitektur atau lingkungan binan bukanlah gejala ketrampilan teknis semata namun juga mewartakan kesan penghayatan yang mempunyai arti tertentu.
Citra suatu wadah kegiatan merupakan kesan yang terbentuk oleh persepsi pemakai terhadap karakter wadah. Dalam kaitannya dengan kota, citra mengidentifikasikan keadaan khusus suatu kota atau kawasan dalam suatu kota yang merupakan identitas kota atau kawasan tersebut dan terbentuk dalam rentang waktu yang relative lama. Identitas atau ciri khas tersebut berkaitan erat dengan karakter pembentuknya yan g dapat didentifikasikan melalui beberapa elemen tertentu.
Citra hasil pengidentifikasian karakter-karakter yang ada pada tautan rancangan. Dalam hal ini tautan kawasan (urban context) dan fungsi bangunan pembentuk citra. Tautan urban dapat diidentifikasikan melalui:
a. Konservasi ruang urban ( urban space conserce)
b. Integritas fasilitas Re-urban (urban integration)
c. Kontinuitas ruang-ruang urban ( continuity of urban space)

C. Karakteristik Tautan Kawasan (urban space dan urban spatial)
Pengamatan terhadap ruang urban bisa melalui pendekatan penilaian ruang urban (urban space) dan lingkungan fisik urban (urban fabric).
Ada beberapa teori mengenai kualitas ruang urban, salah-satunya adalah theory of urban spatial design, yaitu:
1. Teori Sosok Ruang Massa (Figure Ground Theory)
Merupakan kajian ruang urban melalui ruang massa solid (pejal) dan void (rongga). Dengan penggambaran dua (2) dimension didapat bentuk dan pola-pola yang spesifik dan dominan. Dalam suatu lingkungan fisik (urban fabric) terdapat unsur-unsur urban solid (massa bangunan), urban void (ruang-ruang antar bangunan), dan relasi antar urbansolid-urban void (pejal-rongga). Diperlukan untuk menganalisa karakter fisik dapat mengidentifikasikan ciri-ciri pola yang spesifik atau dominan yang ada. Ada 6 tipe hubungan antara urban solid-urban void, yaitu: (R. Trancick, 1986, h.101)
a. Pola papan catur (Grid)
b. Pola menyiku (Anguler)
c. Pola kurva-linier (Curve-Linear)
d. Pola menjari (Radial Concentric)
e. Pola bersumbu (Axial)
f. Pola organic (Cluster)

2. Teori Tautan (Linkage Theory)
Merupakan kajian urban space dalam keterkaitannya/ ketergantungannya suatu ruang terhadap ruang lainnya, melalui sikulasi. Pola hubungan urban solid-urban void selalu saling terkait satu dengan yang lainnya, untuk itu perlu menjabarkan keterkaitan kawasan melalui hubungan spasial (spasial lingkage) dalam pendekatan mengidentifikasikan pola-pola hubungan spasial terdapat 3 macam bentuk yaitu:
a. Bentuk komposisi (Compositional Form)
Bangunan-bangunan dengan bentuk komposisi tertentu melahirkan pola-pola hubungan spasial antar bangunan melalui penggambaran secara 2 dimensional.
b. Bentuk Menerus (Mega Form)
Bangunan-bangunan yang menerus menghasilkan pola-pola hubungan spasial dengan bentuk pola-pola yang besar.
c. Bentuk kelompok (Group Form)
Group-group/ kelompok (olah fungsi atau kegiatan) secara fisik membentuk pola-pola hubungan spasial yang bersifat natural dan organik.

3. Teori Tempat (Place Theory)
Merupakan kajian urban space dalam kerja sama/ perpaduan antara tempat dengan karakteristik fisik khas lainnya. Kajian ini bersifat intern suatu tempat / kawasan pengidentifikasian karakter fisik kota/ kawasan yang menonjol memberikan nilai tambah bagi suatu kawasan dan bagi landmark merupakan suatu keharusan




Paul Andreu Sang Perancang Bandara International Soekarno-Hatta


(by Sebastian)

Paul Andreu merupakan seorang arsitek berkebangsaan Perancis. Lahir pada tahun 1938, tepatnya di Cauderan, Bordeaux, Gironde, Perancis. Menjadi seorang arsitek setelah mengenyam pendidikan arsitek di Ecole Polytechnique dan Ecole Nationale Superieure des Pont di Chaussees, Perancis. Hingga saat ini ia bekerja di Aeroports de Paris (ADP) sebuah perusahaan yang bergerak dibidang transportasi udara milik Perancis. Selain merancang Bandara International Soekarno-Hatta, beliau juga merancang bandara internasional Perancis, Charles de Gaulle Airport dan Shanghai Pudong Airport di Shanghai, Cina. Malah pada saat ini beliau tengah mengerjakan sebuah proyek opera house, juga di Cina tepatnya di Beijing, Yaitu Beijing Opera.

KONSEP RANCANG
 Penelitian Paul Andreu atas tradisi bangunan lokal membuahkan pemahaman yang mendalam atas pengadaptasian adat-istiadat setempat pada kondisi daerah yang beriklim tropis. Pendekatan ini merupakan titik tolak yang radikal pada perancangan yang biasa dilakukan pada sebuah bandar udara kontemporer. Diputuskan bahwa para pendatang yang tiba di Jakarta akan langsung merasakan kekhasan sebuah tempat sejak masih berada di dalam Bandar udara melalui keterpaduan antara bangunan, alam, dan iklim Indonesia yang unik.
 Bangunan yang terletak di hamparan hijau itu merupakan anjungan-anjungan yang menyediakan keteduhan, naungan dan ventilasi. Bahkan dalam upaya mempertemukan tuntutan teknologi sebuah Bandar udara dengan administrasi dan pelayanan fungsional yang kompleks serta kebutuhan penumpang yang dating dan pergi tersebut, sang arsitek tetap melihat kedua terminalnya sebagai suatu pengenalan yang unik terhadap lansekap. Pendekatan yang dia lakukan tidak terbatas pada lingkungannya saja namun juga dengan mempertemukannya pada dimensi sosial dan budaya Jawa. Bandar udara ini dengan demikian menyediakan berbagai fasilitas dan anjungan bagi para pengunjung, untuk berkumpul atau berkontemplasi secara berkelompok maupun perorangan ini berbeda dari bandar udara manapun, yang lebih menekankan pergerakan sejumlah besar manusia secara efisien. Sasaran keunikan tersebut berhasil dicapai Bandar Udara Soekarno-Hatta dengan cara yang amat inovatif. Courtyard yang terbentuk dari beberapa anjungan diberi sentuhan lansekap yang ditanami berbagai pohon, semak dan tumbuhan daerah tropis.
Gagasan awal dari Paul Andreu untuk membukan anjungan-anjungan dan ruang sirkulasi selepas wilayah pemeriksaan penumpang ke alam lepas tercapai sepenuhnya di Terminal I. Pada Terminal II pihak pengelola bandar udara meminta pemasangan penghawaan buatan sehingga seluruh terminal harus dipasangi jendela tertutup yang mengakibatkan terputusnya hubungan langsung antara ruang luar dengan bangunan. Hambatan ini diatasi dengan membuat jendela berukuran besar sebagai bukaan visual yang meningkatkan pandangan ke wilayah lansekap. Taman-taman courtyard tersebut seperti lukisan dihadapan pengunjung, yang menggugah rasa atas lansekap alami di pulau Jawa.



MACLAINE POND & CERITA TENTANG POH SARANG

(by sebastian)


Maclaine Pont, Arsitek Puh Sarang lulusan Technische Hoogeschol di Delft ini dikenal sebagai salah satu arsitek kontroversial dari sekian banyak arsitek berkebangsaan Belanda di Indonesia yang berusaha merangkul iklim dan budaya masyarakat setempat. Lewat analisa ilmiahnya yang intensif ia mencoba menemukan identitas arsitektur Jawa ditinjau dari sudut pandang kaidah arsitektur "rasional" Barat, yang terekam dalam artikelnya "Javaansche Architectuur" pada tahun 1923. Ia menemukan bahwa bentuk dasar struktur arsitektur Jawa adalah struktur tenda, di mana beban atap ditopang langsung oleh tiang tanpa kuda-kuda, yang merupakan ciri atap Arsitektur Nusantara. Baginya, teknologi arsitektur tradisional layak dikategorikan ke dalam prinsip-prinsip arsitektur "modern". Itulah sebab terjadinya bentuk-bentuk unik pada bangunan gereja Puh Sarang ini.

Konsep Perancangan Gereja Puh Sarang

Perancangan Gereja Puh Sarang sangat kompromistis terhadap arsitektur lokal untuk mewadahi kegiatan "agama modern" yang belum lama dikenal oleh masyarakat waktu itu. Maka diciptakanlah konsep "kontekstual" untuk tujuan yang "baru", sehingga dapat menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of belonging) umat terhadap gerejanya. Selain itu, bangunan ibadah itu sendiri dengan mudah berbaur dengan lingkungan sekitar untuk kemudian diakui sebagai milik bersama bagi warga sekitar. Dari bangunan Gereja Puh Sarang ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa arsitektur bukan sekedar bentuk dan fungsi sebagaimana dipercayai oleh para arsitek aliran modernisme. Bangunan seyogyanya berhubungan logis dengan lingkungan dan gaya hidup masyarakat setempat. Ilmu lokalitas inilah yang diterapkan dalam membangun gereja yang unik ini. 
 


Desain Kontekstual Gereja Puh Sarang
Gereja Puh Sarang terdiri dari 5 massa bangunan yang terdiri dari 2 bangunan utama serta 3 bangunan yang lebih kecil. Atap dari bangunan utama tempat altar berada berupa kubah (cupola) tenda yang diilhami oleh bangunan jaman majapahit hasil rekaman pada relief candi-candi yang dipelajari Pont. 
 
Altar dan dinding bangunan gereja penuh dengan relief hasil pahatan tangan manusia berbahan batu bata merah khas candi, yang masih dipertahankan sampai sekarang, dengan penambahan lapisan bahan pengawet untuk melindunginya dari kondisi cuaca lembab. Interiornya diolah dengan mengadopsi bentuk pura Bali dengan sistem pemasangan batu bata tradisional tanpa semen. Bata digosok sampai halus dengan campuran kapur, air, dan gula, sehingga bata saling menggigit tanpa adukan. Di sinilah letak persenyawaan antara desain Maclaine Pont dengan teknologi, bahan bangunan, kemampuan tukang lokal serta budaya setempat.
Bangunan pendapa, yang digunakan untuk menampung umat apabila daya tampung bangunan utama tidak mencukupi, menempel di bagian depan gereja. Umat duduk di lantai selama prosesi, yang merupakan perwujudan simbolisme dari sikap tubuh yang merendahkan diri. Ini pula kebiasaan duduk masyarakat Asia yang fleksibel memanfaatkan ruang tanpa perlu banyak perabot ruang. Bentuk atap pendapa ini mirip dengan atap bangunan Institut Teknologi Bandung yang juga dirancang oleh Maclaine Pont sebelumnya, dengan struktur tenda arsitektur Sunda Besar (arsitektur Nusantara) yang melambangkan bahtera Nuh. Sementara bangunan utama pusat berbentuk cupola menyimbolkan Gunung Ararat, tempat mendaratnya bahtera.
Perletakan massa gereja Puh Sarang mengadaptasi konsepsi kosmis Jawa yang berorientasi Utara - Selatan. Hal ini diterapkan mengingat Kediri pernah menjadi pusat kerajaan besar di tanah Jawa pada abad XII, juga riset Maclaine Pont mengenai arsitektur pada jaman Majapahit. Poros kompleks gereja diperkuat dengan penataan trap undak-undakan tanah, gerbang bergaya pura, serta penanaman pohon beringin di antara gereja dan gerbang. Bangunan tambahan berupa sepasang bangunan bujur sangkar di sisi kiri kanan muka kompleks, serta sebuah bangunan persegi panjang kecil di bagian Timur. Kompleks gereja Puh Sarang dikelilingi dengan dinding batu kali ekspos, memiliki pelataran berlapis batu alam serta taman yang dirancang bergaya khas Arsitektur Jawa / Bali. Demikian pula dengan menara lonceng yang disusun dari tumpukan batu menukik ke atas, sehingga berkesan alami dan membumi, seolah tumbuh dari dalam tanah. Suatu rekayasa bangunan untuk menghadirkan keselarasan antara karya budaya buatan tangan manusia dengan alamnya, dan sebaliknya perekayasaan lingkungan alami sedemikian rupa untuk bersimbiosis dengan arsitektur gereja.




KONTEKSTUALISME DALAM ARSITEKTUR


(by sebastian)

A. Konsep Arsitektur Kontekstualisme

Konsep kontekstualisme dalam arsitektur mempunyai arti merancang sesuai dengan konteks yaitu merancang bangunan dengan menyediakan visualisasi yang cukup antara bangunan yang sudah ada dengan bangunan baru untuk menciptakan suatu efek yang kohesif (menyatu). Rancangan bangunan baru harus mampu memperkuat dan mengembangkan karakteristik dari penataan lingkungan, atau setidaknya mempertahankan pola yang sudah ada. Suatu bangunan harus mengikuti langgam dari lingkungannya agar dapat menyesuaikan diri dengan konteksnya dan memiliki kesatuan visual dengan lingkungan tersebut dan memiliki karakteristik yang sama. Desain yang kontekstual merupakan alat pengembangan yang bermanfaat karena memungkinkan bangunan yang dimaksud untuk dapat dipertahankan dalam konteks yang baik.
Arsitektur Kontekstual dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu:
1) Contras (kontras/berbeda)
Kontras sangat berguna dalam menciptakan lingkungan urban yang hidup dan menarik, namun yang perlu diingat bahwa kontras dapat dianalogikan sebagai bumbu yang kuat dalam makanan yang harus dipakai dalam takaran secukupnya dan hati-hati. Kontras menjadi salah satu strategi desain yang paling berpengaruh bagi seorang perancang. Apabila diaplikasikan dengan baik dapat menjadi fokus dan citra aksen pada suatu area kota. Sebaliknya jika diaplikasikan dengan cara yang salah atau sembarangan, maka akan dapat merusak dan menimbulkan kekacauan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Brent C. Brolin, bahwasanya kontras bangunan modern dan kuno bisa merupakan sebuah harmoni, namun ia mengingatkan bila terlalu banyak ”shock effect” yang timbul sebagai akibat kontras, maka efektifitas yang dikehendaki akan menurun sehingga yang muncul adalah chaos.
2) Harmony (harmoni/selaras)
Ada kalanya suatu lingkungan menuntut keserasian/keselarasan, hal tersebut dilakukan dalam rangka menjaga keselarasan dengan lingkungan yang sudah ada. Bangunan baru lebih menghargai dan memperhatikan konteks/lingkungan dimana bangunan itu berada, kemudian bersama-sama dengan bangunan yang sudah ada atau lingkungan yang ada menjaga dan melestarikan “tradisi” yang telah berlaku sejak dulu. Sehingga kehadiran satu atau sekelompok bangunan baru lebih menunjang daripada menyaingi karakter bangunan yang sudah ada walaupun terlihat dominan (secara kuantitas).
Kontekstualisme dapat pula dianggap sebagai teknik mendesain yang dikembangkan untuk dapat memberikan jawaban khususnya atas kondisi-kondisi yang bersifat morfologis, tipologis, pragmatis menjadi bersifat pluralistic dan fleksibel, serta bukan dogmatis rasional ataupun terlalu berorientasi kepada kaidah-kaidah yang terlalu universal.

B. Prinsip Kontekstualisme dalam Arsitektur
Kontekstualisme dalam arsitektur pada hakekatnya adalah persoalan keserasian dan kesinambungan visual, memori dan makna dari urban fabric. Prinsip kontekstualisme dalam arsitektur adalah adanya pengakuan bahwa gaya arsitektur suatu bangunan selalu merupakan bagian fragmental dari sebuah gaya arsitektur yang lebih luas.
Pada saat ini prinsip-prinsip yang sesuai untuk masa yang akan datang baru mulai muncul dengan jelas. Manifesto Modern sebagai naskah/tulisan yang sering dipakai untuk mengumumkan daftar prinsip Modern dengan suara keras lebih sensitif pada situasinya. Pendekatan dan pemikiran arsitektural yang sesuai untuk suatu situasi tertentu mungkin tidak sesuai digunakan untuk situasi yang lain. Arsitektur Modern tidak langsung dibuang ke dalam sampah, bahkan masih sangat penting sebagai prinsip yang paling sesuai untuk jalan Jendral Sudirman di Jakarta Pusat lain dari bahasa arsitektural yang sesuai dengan kawasan Keraton Surakarta.
Hal ini merupakan prinsip pokok kontekstualisme yang menjadi salah satu unsur terpenting dalam agenda pasca Modern yang sedang timbul, tapi bukan hanya soal gaya yang terpilih. Generasi baru arsitektur barat telah jenuh membicarakan mengenai gaya arsitektur, yang sedang dicari adalah cara untuk membuatkan jati diri kepada masyarakat serta menawarkan sumbangan nilai-nilai hidup.

C. Kedudukan Arsitektur Kontekstualisme dalam Post-Modern Arsitektur
Selama rentang waktu tahun 1960 sampai 1970-an, perbincangan tentang postmodernisme mulai masuk ke dunia arsitektur. Diruntuhkannya bangunan perumahan Pruitt Igoe, St. Louis, Missouri, yang memiliki karakter arsitektur modern (arus arsitektur International Style yang dipelopori Mies van der Rohe) menandai lahirnya pemikiran arsitektur postmodernisme. Arsitektur postmodern membawa tiga prinsip dasar yakni: kontekstualisme, allusionisme dan ornamental. Prinsip kontekstualisme berarti adanya pengakuan bahwa gaya arsitektur suatu bangunan selalu merupakan bagian fragmental dari sebuah gaya arsitektur yang lebih luas. Prinsip allusionisme berarti adanya keyakinan bahwa arsitektur selalu merupakan tanggapan terhadap sejarah dan kebudayaan. Sementara prinsip ornamental berarti pengakuan bahwa bangunan merupakan media pengungkapan makna-makna arsitektural.
Adalah Robert Venturi, arsitek sekaligus teoritisi awal konsep arsitektur postmodern, dalam bukunya Complexity and Contradiction in Architecture (1966), yang mulai membuka pembicaraan konsep arsitektur postmodern. Ia memaparkan bahwa arsitektur postmodern adalah konsepsi teoritis arsitektur yang memiliki beberapa karakter. Menurutnya, arsitektur postmodern lebih mengutamakan elemen gaya hibrida (ketimbang yang murni), komposisi paduan (ketimbang yang bersih), bentuk distorsif (ketimbang yang utuh), ambigu (ketimbang yang tunggal), inkonsisten (ketimbang yang konsisten), serta kode ekuivokal (ketimbang yang monovokal) (Bertens, 1995: 54).
Sementara itu Charles Jencks, yang diakui sebagai mahaguru arsitektur postmodern, dalam bukunya The Language of Postmodern Architecture (1977), menyebut beberapa atribut konsep arsitektur postmodern. Beberapa atribut tersebut adalah metafora, historisitas, ekletisisme, regionalisme, adhocism, semantik, perbedaan gaya, pluralisme, sensitivisme, ironisme, parodi dan tradisionalisme (Bertens, 1995: 58). Lebih lanjut arsitektur postmodern, menurut Jencks juga memiliki sifat-sifat hibrida, kompleks, terbuka, kolase, ornamental, simbolis dan humoris. Jencks juga menyatakan bahwa konsep arsitektur postmodern ditandai oleh suatu ciri yang disebutnya double coding. Double coding adalah prinsip arsitektur postmodern yang memuat tanda, kode dan gaya yang berbeda dalam suatu konstruksi bangunan. Arsitektur postmodern yang menerapkan prinsip double coding selalu merupakan campuran ekletis antara tradisional/modern, populer/tinggi, Barat/Timur, atau sederhana/complicated.

ALAMAT INSTITUSI KAMPUS ARSITEKTUR DI INDONESIA


ALAMAT INSTITUSI KAMPUS ARSITEKTUR DI INDONESIA

No. Unversitas Alamat Telephone
1. Universitas Muhammadiyah Jl. KHA Dahlan No. 7, Banda Aceh
2. Universitas Katholik St. Thomas Jl. S. Parman No. 107, Medan
061-528102
3. Universitas Medan Area Jl. Jend. Gatot Subroto No. 288, Medan 061-525788
4. Universitas Pembangunan Panca Budi Jl. Jend. Gatot Subroto
KM 4,5, Medan061-519571
5. Universitas Sisingamangaraja XII Jl. Urip No. 9, Medan 061-516447
6. Institut Teknologi Medan Jl. Gedung Arca No. 52, Medan 061-326725
7. Institut Sains dan Teknologi TD Pardede Jl. Syailendra No. 8, Medan
061-28932
8. Universitas Sumatera Utara (USU) Jl. Universitas No.9, Medan
061-521623/524033
9. Universitas Indonesia (UI) Jl. Salemba Raya No. 4, Jakarta
021-330355/330343/7270020
10. Universitas Borobudur JL. Kalimalang No. 1, Jakarta Timur
021-8198894/8199598
11. Universitas Islam Attahiriyah Jl. Kampung Melayu Kecil III/28, Tebet,
Jaksel 021-8291018
12. Universitas Jakarta Jl. Pulomas Barat Villa Tanah Mas, Jakarta
13210 021-4894521
13. Universitas Jayabaya Jl. Jend. A Yani – By Pass, Pulo Mas, Jakarta
021-414771/413458
14. Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Jl. Jatiwaringin Pondok Gede, Jakarta
PO. BOX 7774/JAT CM Jakarta, 13077 021-8462230/8462231
15. Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jl. Letjen. Soetoyo, Cawang,
Jakarta 021-8090311
16. Universitas Mercu Buana (UMB) Jl. Raya Meruya Udik, Kebon Jeruk,
Jakarta 021-5340813/5340814
17. Universitas Mpu Tantular Jl. Cipinang Besar No. 2, Jakarta
Timur 021-8502913
18. Universitas Muhammadiyah Jl. Ciputat Raya, Jakarta Selatan
021-741894
19. Universitas Pancasila Jl. Lenteng Agung, Pasar Minggu, Jaksel
021-7270085/7270087
20. Universitas Persada Indonesia “YAI” Jl. Biru Laut timur, Kelapa Gading,
Jakarta 021-7890146
21. Universitas Tarumanegara Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta
Barat 021-5604004/5604002
22. Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa, Grogol, Jakarta Barat
021-5663231/5663232
23. Universitas Pelita Harapan Jl. Taman Kedoya Barat No. 8 Jakarta
Barat 021-5801568/5804810
24. Institut Sains dan Teknologi Nasional Jl. Moh. Kahfi No.11 Srengseng
Indah, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12640 021-7270090
25. Institut Teknologi Indonesia Jl. Raya Puspitek, Serpong, Tangerang
021-7560542/7560545
26. Universitas Indonesia Kampus UI Depok
Jl. Salemba Raya No. 4, Jakarta 021-330355/330343/7270020
7270021/7270022/7270023
27. Universitas Katolik Parahyangan Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung
022-83691/83692
28. Universitas Langlang Buana Jl. Karapitan No. 116 A, Bandung
022-430601
29. Universitas Winaya Mukti Jl. Winaya Mukti No.3,Jatinangor,
Sumedang 022-798139
30. Institut Teknologi Bandung Jl. Taman Sari No. 64, Bandung
022-83047/83048
83414/431792
31. Institut Teknologi Adityawarman Jl. RE. Martadinata No. 102,
Bandung 022-708331
32. Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Jl. Penghulu KH. Hasan Mustafa No.
23, Bandung 022-72218
33. Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Jl. Ir. Juanda No. 126 F - 130 C,
Bandung 022-
34. Sekolah Tinggi Teknik Industri Garut Jl. Cimanuk No. 93 B, Garut
0262-22321
35. Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC) Prof. Dati. I Jawa Barat Jl.
Perjuangan, Cirebon
36. Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Jl. Dr. Setia Budi No. 229,
Bandung 022-21365/213161
37. Universitas Katolik Soegijapranata Jl. Pawiyatan Luhur IV/1,
Semarang 024-316142/316167
38. Universitas Pandanaran Jl. Kelud Raya, Semarang 024-
39. Universitas 17 Agustus 1945 Jl. Pawiyatan Luhur IV, Semarang 024-
40. Universitas Diponegoro Jl. Prof.Sudharto Pedalangan Tembalang 024-
41. Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani, Pabelan Tromol Pos I,
Surakarta 0271-47417/45493
42. Universitas Tunas Pembangunan Jl. Walanda Maramis No. 31, Solo
0271-31745
43. Universitas Sebelas Maret Solo Jl. Ir. Sutami No. 36 A, Kentingan,
Surakarta 0271-36623
44. Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto Jl. Karang Salam, Purwokerto
0281-21889
45. Universitas Katolik Dharma Cendika Jl. Deles I/29, Surabaya
031-596462
46. Universitas Kristen Petra Jl. Siwalan Kerto No. 121-131,
Surabaya 031-839040
47. Universitas Merdeka Surabaya Jl. Karah Agung No. 11, Surabaya
031-44029
48. Universitas Muhammadiyah Surabaya Jl. Pucang Adi No. 124,
Surabaya 031-581336
49. Universitas 17 Agustus 1945 Jl. Semolowaru No. 45, Surabaya 031-578755
50. Universitas Widya Kartika Jl. Dharma Husada Indah Barat VI/1,
Surabaya 031-595312
595313
51. Universitas Al - Falah Jl. Taman Mayangkara No. 2-4, Surabaya
52. Institut Teknologi Adhitama Surabaya Jl. Arief Rachman Hakim No. 100,
Surabaya 031-5945093/5946331
53. Insitut Teknologi 10 November Kampus ITS Keputih Sukolilo
Kotak Pos 5164 Surabaya 031-597264/597274
Fax. 031-597845
54. Universitas Merdeka Malang Jl. Terusan Raya Dieng No. 62-64,
Malang 0361-28395
55. Universitas Brawijaya Jl. Mayjen Haryono No. 169, Malang
0361-51611/51614/51097
56. Institut Teknologi Nasional Malang Jl. Bendungan Sigura-gura No. 2,
Malang 0361-51951
57. Universitas Dwijendra Jl. Kamboja, Denpasar 0361-24383
58. Universitas Warmadewa Jl. Teropong Tanjung Bungkak, Denpasar 0361-23858
59. Universitas Ngurah Rai Jl. Padama, Penatih, Denpasar Timur 0361-34017
60. Universitas Udayana Jl. Kampus Bukit Jimbaran, Denpasar 0361-71854
Fax. 0361-71607
61. Universitas Sam Ratulangi Kampus Unsrat Bahu, Menado
0431-63786/63586/63886
62. Universitas Hassanudin Jl. 0411-312424 Fax. 312110
63. Universitas Tadulako Jl. Kampus Bumi Bahari Tadulako, Tondo,Palu
0451-22355
64. Universitas Katolik Atmajaya Jl. Babarsari No.44, Yogyakarta
0276-565411/565258
65. Universitas Islam Indonesia Jl. Cik Di Tiro No. 1, Yogyakarta
0276-513091/587115/563207
66. Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wahidin No. 5-9, Yogyakarta
0276-513606
67. Universitas Widya Mataram Jl. Ndalem Mangkubumen Kp. III/237,
Yogya 0276-74352
68. Universitas Gajahmada Jl. Bulaksumur , Yogya 0276-
69. Akademi Teknik YKPN Jl. Gagak Rimang No.1, Yogyakarta 0276-587469
70. Institut Teknologi Tomohon
71. Institut Teknologi Minaesa









Menengok sejenak Taman Sriwedari....


(by sebastian)

TAMAN SRIWEDARI

Babad Taman Sriwedari
Pada waktu sebelum Surakarta menjadi keraton, Kota Surakarta berwujud hutan lebat, airnya tidak dapat mengalir dengan tuntas. Setelah kehancuran kraton Kartasura, Raja memerintahkan prajurit untuk mencari tanah yang baik untuk singgasana keraton. Sebab menurut petunjuk pada jaman dahulu, bahwa keraton yang pernah dihancurkan oleh musuh tidak baik untuk dilestarikan.
Tidak lama kemudian setelah menerima wangsit untuk pergi mencari tanah ke timur, mereka berjalan ke timur sampai di Purwasari, memilih tanah disitu, tetapi tidak ada yang baik. Perjalanan ke timur lagi sampai di Kadipala, disitu para utusan merasa senang melihat tanah yang luas dan teduh. Pantas untuk dijadikan tampat keraton. Raja sangat gembira mendengar laporan dari utusan, kemudian memanggil ahli nujum supaya menghitung penggunaan tanah, hitungan ahli nujum menunjukkan bahwa tanah tersebut tidak baik untuk dijadikan keraton, tetapi pantas untuk dijadikan milik pemerintah. Sebab di situ termasuk kerajaan lelembut.
Kemudian para utusan berjalan ke arah timur supaya mendapat tanah yang menjadi wahyu keraton yaitu dusun Sala. Dengan penglihatan para bang-bang pangalum-alum pada pemerintahan Surakarta tanah di Kadipala tadi pada tahun 1831 tahun Dal sinengkalan : JANMA GUNA NGESTHI RATU, kababad menjadi Taman Sriwedari.
Wujud Taman Sriwedari ( 1901-1938 )


Taman Sriwedari terletak di sebelah barat Keraton Surakarta yang berjarak kira-kira dua pal. Taman Sriwedari berbentuk persegi empat dikelilingi pagar berduri, di sebelah utara terdapat sungai yang membelah tengah-tengah kota. Gerbangnya seperti mahkota Prabu Baladewa berdiri kokoh menghadap ke utara sebagai tampat keluar masuknya para pengunjung.
Di dalam dibuat jalan berkelok-kelok melengkung ke dalam dan bercabang-cabang. Di pinggir jalan ditanami pohon Cemara diselingi pohon Trembesi dan Palem serta Kenari. Tepat di tengah-tengah terdapat rumah yang menghadap ke empat arah, berfungsi untuk istirahat para pengunjung dan jika pada waktu ramai untuk berjualan, dari tempat ini orang dapat melihat sekeliling taman karena dibuat sedikit lebih tinggi. Di sebelah selatan dibuat kandang-kandang binatang seperti sangsam, kancil, celeng, senuk, nam, lembu, banteng.
Di sebelah timur kandang terdapat panggung yang menghadap ke utara yang dipakai apabila Ingkang Sinuhun datang melihat ke Sriwedari. Agak jauh di sebelah utara, terdapat panggung untuk raja. Di depan panggung terdapat kolam tempat buaya, bulus serta penyu. Di sebelah timurnya terdapat kolam bulat yang ditanami Teratai , Kayu Apu, tempat burung Mliwis, dan Bango yang dikenal dengan Swan. Di tengah telaga terdapat panggung Estha berdinding enam melingkat berwarna-warni, dilapisi ukir-ukiran bernama Panti Pangaksi, tempat ini untuk raja. Di bawah panggung terdapat gua yang dijadikan tempat gamelan lagu-lagu bernama Maguwa Swara.
Masa Paku Buwono XI ( 1938-1980 )
Pada masa Paku Buwono XI ini tidak ada perubahan yang mencolok dengan penambahan pada fasilitas yang menonjol yaitu Gedung Wayang Orang dan Ketoprak.
Masa Paku Buwono XII ( 1980-1996 )
Fasilitas yang tersedia terjadi perubahan yang sangat drastis, karena bermacam satwa terpaksa harus dipindah/dititipkan di Taman Satwa Taru Jurug.


SRIWEDARI MASA KINI
Keberadaan Taman Sriwedari, saat ini dirasakan kurang dari fungsinya sebagai fasilitas taman kota dan taman wisata budaya. Adanya berbagai fasilitas rekreasi/wisata di kawasan Sriwedari ini, cenderung mendorong masyarakat pengunjung untuk lebih menikmati fasilitas tertentu daripada menikmati suasana taman secara keseluruhan yang diakibatkan oleh memudarnya citra taman.
Hal ini mengakibatkan munculnya kesan/citra bahwa Sriwedari bukan lagi merupakan “taman” tetapi tidak lebih sebagai suatu lokasi gedung bioskop, THR, ataupun restoran yang masing-masing berlomba-lomba untuk menjaring pengunjung dengan spesifikasi dan kelebihannya. Keadaan demikian mengakibatkan lebih dominannya fasilitas hiburan tersebut dibandingkan dengan fungsi tamannya, yang lambat laun akan semakin menyedot tidak hanya pengunjung (yang memang diharapkan) tetapi juga animo para investor yang ingin mengembangkan usahanya di kawasan Sriwedari sebagai taman kota. Sehingga Keberadaan Taman Sriwedari sebagai taman wisata budaya dan taman kota mulai terancam.

(sebastian)

Jumat, 24 Juli 2009

MENGENAL SOSOK ARSITEK ROMO MANGUNWIJAYA



1. Siapakah Romo Mangun itu?

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau akrab disapa dengan Romo Mangun lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, 6 Mei 1929 dari pasangan Yulianus Sumadi Mangunwijaya dan Serafin Kamdanijah. Beliau anak sulung dengan sebelas adik, tujuh di antaranya perempuan. Beliau wafat “dalam tugas” dan dikelilingi oleh para sahabatnya dalam suatu seminar di Jakarta,10 Februari 1999. Kemudian dimakamkan di makam Seminari Tinggi Kentungan, Jl. Kaliurang, Yogyakarta.

2. Bagaimanakah masa kecil Romo Mangun?

Lingkungan asrama dan bruderan, itulah yang telah dikenal sejak kecil oleh Bilyarta (atau Mas Ta, panggilan untuk si anak sulung ini), sedemikian rupa sehingga sikap disiplin dan tanggung jawab mulai bertumbuh dalam diri Mas Ta. Demikian kesaksian Ibu Hendrawasita, yang kini berdomisili di Gejayan Yogyakarta, mengenai Bilyarta waktu kecil. Ibu Hendra masih ingat bagaimana pada waktu itu, saat zaman sedang susah dan serba sulit, bersama sang kakak, ia diajak berkeliling menjual sabun, demi membantu orang tua. “Bila sore tiba, Mas Ta mengajak saya berkeliling menjual sabun batangan dengan naik sepada. Saya mbonceng di belakang”, cerita Ibu Hendra.

Oleh orang tuanya, khususnya Ibu, Bilyarta digadhang-gadhang agar kelak menjadi imam. Dia pada masa kecilnya pernah mendapat alat permainan untuk “misa-misa”-an. Adik-adiknya disuruh menjadi umat.
 
3. Pendidikan apa saja yang telah Beliau tempuh?

Tahun 1943 HIS di Magelang
Tahun 1947 ST di Yogyakarta
Tahun 1951 tamat STM di Malang
Tahun 1951-1952 Seminari Menengah di Jl. Code, Yogyakarta
Tahun 1952-1953 Seminari Menengah di Mertoyudan, Magelang
Tahun 1953-1959 Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta
Tahun 1959 Ditahbiskan menjadi Imam
Tahun 1959-1960 Belajar Arsitektur di ITB
Tahun 1960-1966 Sekolah Teknik di Rheimisc-Westfälische Hochschule, Aachen, Republik Federal Jerman
Tahun 1978 Fellowship of Aspen Institute for Humanistik Studies, Aspen, Colorado USA

4. Pengalaman bekerja dan pengabdian apa saja yang telah Beliau lakukan?

1945-1946 Prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon V, Kompi Zeni
1947-1948 Komando Seksi TP Brigade XVII. Kompi Kedu
1959-1999 Pastor
1967-1980 Dosen Luar Biasa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM
1967-1999 Arsitek independent berbagai bangunan:

 Klasifikasi Bangunan Karya Romo Mangun Menurut Fungsinya
No Pertapaan/ Peziarahan Gereja/ Bgn Religius Bangunan Umum Wisma/ Rumah Kediaman Bgn Pendidikan/ Sekolah
1 Kompleks Peziarahan Sendang Sono
 Gedung Keuskupan Agung Semarang
 Markas Kowilhan II
 Rumah Kediaman Arief Budiman
 Perpustakaan Pusat UGM
2 Pertapaan Trapistin Bunda Pemersatu Gedono Boyolali, Jateng Gereja Katolik St. Maria Assumpta Klaten
 Gedung Bentara Budaya Kompas-Gramedia Jakarta Rumah Kediaman Romo Mangun di Gg.Kuwera, Mrican (Wisma Kuwera
 Seminari Anging Mammiri
3 Gereja St. Albertus Agung Jetis, Yogyakarta
 Pemukiman Tepi Kali Code Wisma Salam
 SD Kanisius
4 Gereja Katolik Cilincing Jakarta
  Wisma Unio Sangkalputung Klaten
 Kampus Universitas Surabaya
5 Gereja St. Lukas
  Wisma Sang Penebus
Relief Gelanggang Mahasiswa UGM
6 Gereja St. Maria Fatima
7 Gereja Bunda Maria Sapta Duka  
8 Gereja Salib Suci
9 Gereja Deyangan
10 Kapel di Panti Semedi
11 Altar Gereja Muntilan  
12 Gereja St. Theresia Salam Jombor  
13 Gereja St. Yusuf  
14 Gereja St. Petrus
15 Gereja Mandongan
1968-1999 Kolumnis di berbagai Koran dan majalah, novelis
1980-1986 Pekerja social di tepian S.Code, Yogyakarta
1986- Pendampingan warga korban pembangunan Waduk Kedongombo, Jateng

5. Mengapa Bilyarta masuk ke Seminari?

Bilyarta masuk ke Seminari setelah mengenyam banyak pengalaman dalam hal berperang. Beliau sempat menjadi prajurit TP (Tentara Pelajar), th.1948 Beliau menjadi Komandan Seksi TP Brigade XVII Kompi Kedu.


Ada banyak alasan masuk akal yang bisa dibayangkan, yang pasti pemuda Bilyarta pun turut berusaha merebut hidup yang lebih baik. Dilihatnya bahwa menjadi imam adalah suatu bentuk atau lingkup hidup yang menjadikan masa depan yang lebih baik.

Menurut Theresia Kushardini (Sekretaris Yayasan Arita), Romo Mangun ini tergerak menjadi imam antara lain karena kata-kata bijak penuh makna dari komandannya: Bapak Isman. Bapak Isman pernah menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia hanya terjadi karena perjuangan rakyat yang didukung oleh komponen-komponen yang lain. Yang paling banyak memberikan pengorbanan dan sekaligus menjadi korban dari perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah rakyat kebanyakan, bukan yang lain. Selanjutnya 

panggilan imamatnya termotivasi oleh dorongan hati yang kuat untuk membalas hutang budinya kepada rakyat kebanyakan. Baginya, bantuk hidup yang paling memungkinkan untuk “membayar” hutang budinya adalah dengan menjadi imam.

6. Bagaimana kehidupan Bilyarta sewaktu menjalani pendidikan di Seminari?

Masa di Seminari Tinggi, tidak banyak meninggalkan kesan khusus bagi teman-teman sepanggilan. Yang pasti, Beliau menjalani tugas dan panggilannya seperti kebanyakan frater atau rama mudha pada masanya. Salah-satu hal yang unik adalah bahwa pada waktu itu, dengan ketrampilannya di bidang teknik, 

Bilyarta pandai memanfaatkan barang-barang yang oleh orang lain dibuang atau disingkirkan dari kamar. 

Maka kalau orang hendak mencari “tanda-tanda” kehebatan Romo Mangun sebagaimana banyak dikenal oleh masyarakat mengenai Romo Mangun Kali Code atau Romo Mangun yang novelis plus budayawan, atau yang semacamnya dalam kurun waktu pendidikan di Seminari tidak kita dapatkan. Dengan kata lain, Mangunwijaya pada waktu rama mudha di Seminari (Tinggi), lainlah dengan Mangunwijaya yang kini banyak dikenal masyarakat luas.


7. Bagaimanakah konsep teologi Romo Mangun?

Salah-satu ciri konsep teologi Romo Mangun adalah progresif revolusioner yang juga sering disebut dengan teologi pembebasan, teologi yang memihak kaum kecil atau tertindas atau membebaskan kaum tertindas dari berbagai macam penindasan (ekonomi, politik, budaya) dan memulihkan martabat manusia

8. Sikap hidup bagaimanakah yang mendasari karya Romo Mangun?

Sikap hidup ngopeni barang yang sudah terbuang menjadi barang yang berharga atau terhormat. Kalau barang yang terbuang pun diopeni apalagi manusia

Cenderung memakai barang yang ada. Gereja St. Theresia Salam tidak dibongkar tetapi hanya dipermak dan dibalik pintu gerbangnya. 

Dasar sikap hidupnya (kritik atas efisiensi dan kepraktisan, tambal sulam dan pating ceklunik lebih merepotkan):
• Romo Mangun lebih mengutamakan proses yang baik daripada mengejar hasil yang baik tetapi prosesnya tidak baik (mengorbankan banyak hal yang tidak perlu)
• Sama –sama membutuhkan harus berani memilih yang paling membutuhkan.
• Dasar dalam Injil Lukas 15:1-7 (kalau ada orang mementingkan keuntungan/ hasil ‘bisnis’, ada domba seratus, hilang satu akan berkata:”Daripada mencari yang satu belum tentu ketemu sedangkan yang 99 bisa terlantar, ya lebih baik yang lebih banyak diprioritaskan. Tetapi sikap pastoral sejati akan berkata:”Yang 99 memang membutuhkan perhatian namun yang satu jauh lebih membutuhkan perhatian.” Sikap dan semangat semacam inilah yang dimaksud dengan preferential for the poor
• Dasar dalam Yesaya 42:3 :”Buluh yang terkulai tidak akan dipatahkannya, sumbu yang berkedap-kedip tidak akan dipadamkannya.” Kalau semangat hidup atau mentalitasnya mengutamakan efisiensi atau hasil, maka buluh yang terkulai lebih baik dipatahkannya daripada merepotkan. Sumbu yang berkedap-kedip juga lebih merepotkan, maka lebih baik dipadamkan.

Cara dan gaya Romo Mangun mengangkat harkat dan martabat orang kecil bukan dengan gaya sinterklas yang membagi-bagikan uang atau barang kepada orang miskin sebagai ungkapan kedermawaan sebagaimana sering dilakukan banyak orang. Romo Mangun lebih memilih menjadi sahabat orang kecil dengan cara tinggal di antara dan di tengah-tengah mereka daripada menjadi sinterklas yang hanya akan menimbulkan ketergantungan (bukan pemberdayaan dan pemerdekaan) dan menyuburkan pola hidup konsumtif pada diri orang miskin.

Romo Mangun mau belajar dari orang-orang kecil dan sederhana, walaupun Beliau adalah orang yang pandai dalam berbagai bidang kehidupan (teknik arsitektur, kebudayaan, politik, sastra, kesenian, teologi dsb)


9. Bagaimana perhatian Romo Mangun terhadap pendidikan?

Romo Mangun mempunyai perhatian yang sangat besar pada masalah pendidikan terutama pendidikan dasar. Sebab dalam pendidikan dasar itulah dasar-dasar kehidupan manusia (religius, budaya, social, dsb) akan dibentuk.

Dalam bidang pendidikan Romo Mangun sangat setuju dengan pendidikan ala Paolo Freire (pendidikan yang membebaskan atau memerdekakan)

Kata kunci:
• Eksplorasi = anak harus mencari, bertanya dan menemukan jawabannya.Romo sangat tidak setuju dengan banking system (anak hanya disuruh menghafal dan menirukan apa yang dikatakan oleh guru)

• Kreasi (kreatif) = manusia diciptakan dengan akal budi. Dengan akal budi tersebut manusia mempunyai kehendak bebas dan sekaligus dituntut tanggung jawab atas kebebasan itu.

• Setia kawan = Tanpa setia kawan anak yang sudah pandai (karena pendidikan) akan cenderung minteri orang lain

• Religiusitas = religiusitas berbeda dengan agama. Kalau agama lebih menekankan segi-segi lahiriah, hokum dan dogma, maka religiusitas lebih menekankan sikap dasar iman (cinta kasih). Dengan religiusitas yang mendasari semua agama itulah diharapkan orang tidak menjadi fanatic-sempit melainkan bisa hidup bersama dengan baik meskipun berbeda agama.


Romo tidak setuju dengan pendidikan yang bertujuan menyiapkan anak menjadi siap pakai atau siap kerja. Sebab kalau pendidikan hanya menyiapkan anak didik menjadi siap pakai berarti mengingkari hakikat dan martabat manusia yang luhur dan mulia (Kej 1:26 dan Mzm 8) dan menganggap manusia sebagai alat termasuk alat produksi.


10. Bagaimanakah konsep/ visi sosok Y.B. Mangunwijaya di bidang arsitektur?

Humanisme arsitektur dengan pilihan ruang harus menjadi medan karya seorang arsitek, sehingga prioritas orang-orang kecil mendapatkan rumahnya atau lingkungannya yang membuat berkembang sebagai manusia. 

Visi utama sosok arsitek humanis YBM ini terangkum dalam bukunya Wastu Citra.

Wastu adalah jiwa, roh kreatif penghidup kreasi manusia untuk mencari dan memperjuangkan yang benar (verum); yang indah asri (pulchrum) serta peziarah pelaku kebaikan (bonum). Semua ini harus terungkap dalam ekspresi karya yang menjadi gambar langsung (citra) dari kebaikan, kebenaran dan keindahan.

Dimensi I = humanisme, prioritas orang-orang kecil (kaum papa) mendapatkan rumahnya atau lingkungannya yang membuatnya berkembang sebagai manusia.
Dimensi II = bangunan harus mempunyai roh persaudaraan dan kasih (roh teologis = wastu) yang memberikan citra dari kebaikan, kebenaran dan keindahan.
 Cahaya, rancangan jiwa dan visi mencitrakan sesuatu, tdk hanya dibangun dengan satu fungsional fisik saja.
Dimensi III= cita rasa peka sejarah

11. Bagaimanakah konsep rancang YBM dalam karya bangunan gereja?

1. Menjebol model gereja-gereja bangunan yang tertutup, bertembok, ekskusif dan tidak bersaudara dengan kanan-kiri
2. Wujud roh keimanan (persaudaraan kasih yang mrp citra kehadiran Allah sendiri) adalah diberi ruang sinar; cahaya matahari di ruangan samar-samar menjadi bayang-bayang dan bias-bias cahaya.
3. Selalu terbuka langsung berhubungan dengan kehidupan yang ada dan ruang depan sama dengan ruang nyata hidup manusia. Prosesnya = baru ketika masuk dari identitas ramai, fisik, hiruk-pikuk orang perlahan menuju proses samadi ke bayang-bayang cahaya yang merupakan pijar-pijar cahaya Tuhan sumber kehidupan sendiri.
4. Antara kesucian altar dan kesucian pasar dijembatani secara arsitektural dengan meniadakan batas antara rumah Allah dengan pasar kehidupan.
5. Corak bangunan menampilkan corak budaya setempat.
6. Sistem bangunan gereja Romo Mangun “berpihak” pada umat. Artinya, tata ruang altar dan umat dibuat dekat dan komunikasi antara pemimpin liturgy dan umat mudah terjalin.

12. Kajian filosofi atau teologis apakah yang mendasari konsep rancang gereja YBM?

1. Sikap hidup “ngopeni” yang terbuang Romo Mangun dengan dasar Injil Lukas 15:1-7 dan Yesaya 42:3 (terkristal menjadi humanisme arsitektur)
2. Yang menjadi terang itu adalah awam atau umat (awam pengembang dan imam penjaga atau matahari dan bulan) = Konsili Vatikan II yang memahami umat Allah yang dilahirkan bukan menurut daging, melainkan dari air dan Roh Kudus (LG 9).
3. Cita rasa peka sejarah diberi tempat dan dasar religius yang sangat dahsyat
4. Allah bukanlah Allah yang jauh dan menakutkan atau angker, sebagaimana ditampakkan dalam model bangunan gedung gereja yang “keramat” atau “angker”. Tuhan adalah Allah yang dekat dengan kita, yang kita omong-omongan dengan kita dan ingin memberikan hidup-Nya dengan kita.

BUDAYA TEKTONIK DALAM ARSITEKTUR



Ada 3 elemen yang tidak dapat dilepaskan jika membicarakan arsitektur. Pertama adalah tipe, kedua fungsi dan ketiga adalah tektonika. Hal ini terlihat korelatif dengan teori vitruvius mengenai venusitas (keindahan/ bentuk ideal), utilitas (kegunaan/ fungsi) dan firmitas (ketahanan atau ketangguhan). Tipe kerap dikaitkan dengan 2 yang lain, pertama dengan fungsi melalui tipologi fungsional dan kedua dengan tektonika melalui tipologi berdasar sistem struktural. 
 Dimitry Porphyrios mengatakan bahwa tujuan arsitektur adalah untuk membangun suatu wacana tektonika yang selain menjawab pragmatika penyediaan ruangan bagi manusia juga mempresentasikan tektonika sebagai mitos. Di sisi lain Keneth Frampton menyarankan bahwa selayaknya kita kembali pada unit struktural sebagai intisari arsitektur yang tak tereduksi lagi. Baginya unit stuktural mengacu pada hubungan antar komponen tektonika yaitu sambungan, yang merupakan simpul di mana dunia menjadi ada.
 Menurut K.Frampton, tektonika berawal dari kata Yunani tekton yang mempunyai arti tukang kayu atau pembangun. Dari istilah yang pada konotasinya wadag kemudian begeser ke yang lebih umum yakni konstruksi, cara membangun dan nantinya menjadi salah-satu aspek dalam puisi. Sampai pada pemahaman sekarang yakni seni sambungan, aspek puisi dari konstruksi. Ini sebuah evolusi etimologis dari sifatnya ontologis ke representasi. Juga merupakan reduksi dari yang dimaksudnya, yaitu bukan sekedar komponen struktural semata melainkan juga dalam kaitannya dengan keberadaan formal keseutuhan dari gabungan berbagai komponen struktural tersebut.
 Dalam esainya Frampton mengungkapkan bahwa ada 3 kondisi yang terkait dengan tektonika:
1. Objek teknologis yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan langsung. Tectonic object, juga mempunyai makna, yang pertama elemen konstruksi yang dibentuk untuk menekankan peran statika atau status kultur
2. Objek skenografis yang digunakan untuk memerikan sesuatu yang tidak ada atau tersembunyi
3. Objek tektonika yang muncul dalam 2 moda, yaitu moda ontologis (Semper menyebutnya sebagai structural – technical) dan moda representasional (Semper menyebutnya structural – symbolic)
Lebih jauh dijelaskan bahwa Semper menggolongkan bangunan menjadi 2 cara berdasarkan penanganan bahan, tectonic of the frame (penggabungan berbagai rangka berbagai ukuran), dan stereotomic of compressive mass (menumpuk menyusun satuan-satuan jenis). Bahan untuk cara pertama biasanya kayu, bambu atau anyaman, sedang yang kedua biasanya batu, bata, tanah yang dipadatkan lalu jadi beton.
 Tectonic frame bergerak menjulang ke atas ringan, sementara stereotomic base menghunjam menancap masuk ke dalam bawah berat, antara langit dan bumi, antara terang dan gelap, antara ringan dan berat, antara immaterialitas dan materialitas. Tektonika rangka merupakan perwujudan balok-balok dengan berbagai panjang digabung-gabungkan untuk membentuk suatu medan keruangan dan stereotomika massa padat yang ditumpuk-tumpuk membentuk ruang. Hal ini secara ontologism akan bermakna bahwa struktur rangka cenderung mengarah pada dematerialisasi massa dan bersifat ringan. Di sisi lain, bentukan massa akan bersifat lembam dan tertanam pada tanah.
 Dalam arsitektur kita bisa melihat perwujudannya dalam tradisi budaya antara budaya tektonik rangka ringan dengan budaya pejal berat atau perpaduan keduanya dengan derajat pengungkapan yang bervariasi. Semper menekankan bahwa sambungan juga merupakan peralihan sintaks tatkala seseorang melintasi dari massa stereotomik ke rangka tektonik dan bahwa peralihan inilah yang merupakan intisari arsitektur. Sementara Botticher membedakan antara kernform yang merupakan bentuk structural yang esensial dan kunstform yang merupakan pengkayaan.


 Fenomena arsitektur dapat dilihat sebagai produk yang dihasilkan dari hubungan kait berkait di antara segitiga manusia, alam dan teknologi. Sejauh ini, peradaban manusia berangkat dari keadaan alami, teknologi yang dihasilkan berada di bawah sistem kebumian (tellurgical) yang ada, dan dalam batas sifat-sifat itu pulalah teknologi itu bekerja. Grafitasi misalnya, adalah sistem telurgis yang harus dihadapi dan diselesaikan. Telaah arsitektual yang berangkat dari sisi itu, menggambarkan bagaimana manusia memecahkan masalah beban dan pendukungnya secara otentik. Fenomena grafitasi mendorong makhluk manusia untuk mengkaji bahan-bahan bangunan sebagai sarana untuk mendukung beban. Pemecahan dan penyelesaian yang kemudian di-pilih-nya merupakan keputusan penting. Suatu budaya tersendiri.
 Itulah budaya tektonik, yakni budaya mengerjakan sesuatu menuju ke pencapaian tujuan (menahan beban). Pada titik itu pula manusia memperlihatkan kelihayan (ingenuity) dalam menanggapi berbagai gejala alam di suatu lingkungan tertentu, dalam mengambil keputusan untuk menggunakan bahan-bahan lokal terbaik untuk memikul beban tertentu, sesudah tawar-menawar dengan gejala imperative alami itu.
 Tentu saja proses pengambilan keputusan seperti itu tidak berlangsung dalam sekejap. Manusia belajar dan mengamati segala akibat yang ditimbulkan oleh keputusan yang telah diambilnya. Melalui pengelaman empirik yang berlapis-lapis, setapak demi setapak, sedikit demi sedikit, pilihan-pilihannya semakin menajam, semakin efisien, demi setapak, sedikit demi sedikit dan semakin cermat. Dan dalam kecermatan mutakhirnya, terciptalah ungkapan lokal yang otentik, yang sejati, yang menggambarkan ciri-ciri lokalitas yang tak terban-tahkan. Semuanya mencerminkan pemenuhan kebutuhan secara pepak dan menyeluruh.


(sebastian@2006)

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile