Mau tau soal arsitektur, arsitek, desain, interior, konstruksi?

Selamat Datang.......

selamat datang di dunia arsitektur dan interior...blog ini berisi tentang berbagai informasi seputar dunia arsitektur, desain, seni dan budaya. berbagai hal tentang teori desain bangunan dan lansekap juga diposting di blog ini. ulasan jejak rekam arsitek terkenal dan juga bangunan-bangunan hasil karyanya akan selalu dihadirkan di sini...so..check this out!!! selamat membaca...salam 

Jumat, 31 Juli 2009

Kelahiran Arsitektur Jengki


Kelahiran Arsitektur Jengki

Pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan sekitar tahun 1950-1960-an.
Sebagai hasil dari kemerdekaan. Timbul semangat pembebasan diri dari
segala hal yang berbau kolonialisme. "Dilain sisi, kemerdekaan
itu terjadi pada saat kita tidak memiliki tenaga ahli asing",
jelas Ir. Joseph. Tenaga ahli asing yang ada sebagian besar orang
Belanda. Karena adanya pertikaian antara Indonesia dengan Belanda
mengenai Irian Jaya, mereka harus meninggalkan Indonesia. 
Pembangunan tidak boleh berhenti. "Sementara itu timbul keinginan
kuat untuk menampilkan jati diri bangsa yang merdeka", tutur arsitek
yang akrbat dipanggil pak Joseph ini. Dalam keadaan yang serba
sulit ini, pemerintah Indonesia memanfaatkan siapa saja yang
mampu bekerja dibidang konstruksi. Kebetulan kemampuan bekerja
ini dimiliki oleh mereka yang pernah bekerja di perusahaan 
konstruksi pada masa pendudukan. Misalnya kantor Pekerjaan Umum,
Biro Arsitek atau Kontraktor Belanda. Kebanyak dari mereka hanya
lulusan STM. Sebab lembaga pendidikan yang dimiliki untuk mendidik
ahli bangunan pada masa itu hanya sampai tingkat STM. Mereka 
inilah yang dipaksa melakukan pembangunan. Karena hanya lulusan
STM, tentu saja ilmu arsitektur mereka tidak seperti yang sarjana.
Tetapi keuntungan yang mereka peroleh pada masa itu, STM pada masa
itu juga diajarkan dasar-dasar ilmu arsitektur. "Inilah yang
menjadi pegangan para lulusan STM pada masa itu" tambah pak Joseph.

Para tenaga ahli dadakan ini punya kesempatan untuk menunjukkan
skil ke Indonesia-annya. Namun didalam hati, mereka juga
mempertanyakan ilmu arsitektur yang dimiliki. Usaha mempertanyakan
ini tidak sempat mereka renungkan. Tetapi harus segera ditunjukkan
dengan jawabannya. Karena mereka harus langsung bekerja. Pada 
waktu itu, semangat nasionalisme yang kuat sedang tumbuh disetiap 
hati rakyat Indonesia, termasuk para ahli dadakan ini. Dengan
landasan nasionalisme yang kuat, timbul usaha untuk tidak
membuat apa yang telah dibuat Belanda. Dengan kata lain tidak
boleh seperti itu. "Nah, itulah yang mendasari lahirnya Arsitektur
Jengki" kata pak Joseph.

Ciri-ciri Arsitektur Jengki
Langgam arsitektur Kolonial pada waktu itu banyak didominasi
oleh bidang-bidang vertikal dan horisontal. Langgam Arsitektur
Jengki justru berlawanan. Arsitektur Jengki bermain dengan garis
lengkung dan lingkaran. Misalnya, jendela yang tidak simetris,
overstek yang meliuk-liuk, garis dinding yang dimiringkan.
Bentuk-bentuk yang tidak semestinya pada masa itu. "Arsitektur
Jengki hanya mengolah perwajahan bangunan, baik itu luar maupun
dalam", jelas pak Joseph lagi. Selain wajah bangunan, juga
perabot rumah. Misalnya meja tamu dan kursinya. Bentuk tata
ruangnya masih mengikuti tata ruang bangunan Kolonial. Hal ini
terjadi karena keterbatasan ilmu arsitektur tadi.

Arsitektur Jengki juga mempergunakan bahan-bahan bangunan asli
Indonesia. Bahan yang dipergunakan harus bahan jadi, tidak
boleh mentah maksudnya dari perancangannya ketika itu. Untuk
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri
bahan bangunan yang diperlukan. Hasilnya adalah permukaan
bangunan yang dikasarkan, misalnya. Dikasarkan bukan kerikil,
karena kerikil yang diolah semacam itu buatan Belanda.
Permukaan kasar dibuat dari semen yang disemprotkan ke dinding
dan pemakaian roster. Pada bagian penutup atap juga diolah
sedemikian rupa. Kalau pada waktu itu bangunan Jengki dibuat
seperti jambul. "Sepertinya sengaja menghilangkan yang berbau
Belanda. Sehingga saya dapat mengambil kesimpulan bahwa
Arsitektur Jengki murni hasil pemikiran bangsa Indonesia.
Saya juga mencoba melihat literatur luar negeri kalau mungkin
ada satu langgam yang dipakai untuk Arsitektur Jengki. Ternyata
tidak ada", tambahnya. Melihat hal ini pak Joseph mengambil
kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki adalah murni karya bangsa
Indonesia. Tidak berkiblat kepada aliran arsitektur manapun
di dunia termasuk juga Arsitektur Nusantara (kata Indonesia
ada setelah 17 Agustus 1945).

Semangat dekoratif yang dimiliki oleh para arsitek pada saat
itu cukup kuat dan bagus. Unsur dekoratif inilah yang oleh
pak Joseph dianggap mewakili arsitektur Nusantara. Kalau kita
perhatikan, pada setiap arsitektur tersebut? Dekoratifnya.
Jadi Arsitektur Jengki menghadirkan Arsitektur Nusantara lewat 
unsur ini. Bukan lewat bentuk. "Semangat Bhineka Tunggal Ika
hadir melalui arsitektur Jengki. Oleh sebab itu saya dapat
mengatakan bahwa Arsitektur Jengki adalah arsitektur Indonesia
yang pertama", tegas arsitek alumni ITS tahun 1976 ini.

Contoh bangunan dengan arsitektur Jengki ini dapat kita lihat
pada rumah-rumah dikawasan Kebayoran Baru untuk Jakarta. Di
Surabaya misalnya Stadion Gelora Pancasila, Pabrik Coklad di
Jl. Kalisari dan rumah tinggal di Jl. Embong Ploso 12 (saat
tulisan ini dibuat sudah dirobohkan). Biasanya unsur Jengki
lebih banyak hadir pada bangunan rumah tinggal. Mengenai hal
ini pak Joseph menambahkan, "tidak adanya dana untuk membangun
menyebabkan lebih banyak rumah tinggal". Hal ini juga diakui
oleh Van Lier Dame ketika berjumpa dengan beliau. Van Lier Dame
pada sekitar tahun 1950 bekerja di Indonesia sebagai arsitek.
Dia mengakui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia
ketika itu adalah kelangkaan bahan dan kemiskinan uang. 
Sehingga merekapun dituntut bekerja secara efisien.

Mengapa Disebut Jengki?
Ada beberapa pendapat mengapa langgam ini disebut Jengki.
Misalnya dari kata Yangkee, sebutan untuk tentara Amerika dalam
arti yang negatif. Namun arsitek Malang 48 tahun silam ini
mengambil dari sebuah metode pakaian pada waktu itu, seperti
misalnya celana Jengki, baju jengki, mode yang sedang trend
sekitar tahun 50-an.

Saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya
banyak sekali hadir bangunan dengan langgam yang mirip
dengan Jengki. Menjawab pertanyaan ini, Pak Joseph menjelaskan 
bahwa tidak bisa disamakan. Mengapa? karena arsitektur Jengki
ketika itu merupakan pembongkaran terhadap arsitektur Belanda.
Kalaupun ingin disebut sebagai dekonstruksi, maka yang kita
lihat sekarang ini adalah dekonstruksi babak II. Langgam yang
hadir melalui tangan-tangan arsitek muda ini oleh pak Joseph
dikatakan beraliran Lead Modern. Arsitektur Jengki hadir
pada masa itu karena semangat ingin bebas dari pengaruh
kolonial, sedang bentuk-bentuk yang hadir sekarang ini tentu
hadir dengan semangatnya sendiri.

Arsitektur Jengki pernah hadir menambahkan khasanah arsitektur
Indonesia. Lahir oleh karena keadaan yang memaksa. Kalau sampai
saat ini kita masih disibukkan dengan mencari bentuk arsitektur
Indonesia (yang ke-2?) dan belum menemukannya, mungkinkah
karena semangat, tujuan dan keadaan yang mendasarinya berbeda?
Jawabannya terletak pada jati diri kita masing-masing yang
sekarang ini mengaku dirinya sebagai Arsitek Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile
Web Hosting