Mau tau soal arsitektur, arsitek, desain, interior, konstruksi?

Selamat Datang.......

selamat datang di dunia arsitektur dan interior...blog ini berisi tentang berbagai informasi seputar dunia arsitektur, desain, seni dan budaya. berbagai hal tentang teori desain bangunan dan lansekap juga diposting di blog ini. ulasan jejak rekam arsitek terkenal dan juga bangunan-bangunan hasil karyanya akan selalu dihadirkan di sini...so..check this out!!! selamat membaca...salam 
Tampilkan postingan dengan label TEORI ARSITEKTUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEORI ARSITEKTUR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

Pengertian Tipologi Arsitektur


Pengertian Tipologi

  1. Secara harfiah,

Tipologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang tipe.

  1. Raphael Moneo

Secara sederhana tipologi dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep yang memerikan (describe) sebuah kelompok objek atas dasar kesamaan sifat-sifat dasar. Bahkan bisa juga dikatakan bahwa tipologi berarti tindakan berpikir dalam rangka pengelompokan.

  1. Eccle des Beaux Arts

Definisi tipologi dapat dibedakan atas tiga kutub utama, tergantung dari kriteria klasifikasi yang digunakan, maksud/ tujuan dari pembuat teori arsitektur, dan derajat permeabilitas dari sistem klasifikasi itu sendiri.

a) Definisi pertama, yang digunakan oleh ahli teori arsitektur dan arsitek Itali dan Perancis selama 2 dasawarsa terakhir, memperlakukan tipologi sebagai suatu totalitas kekhususan yang menggambarkan saat diciptakaannya karya arsitektur oleh suatu masyarakat atau oleh suatu kelas sosial.

b) Definisi kedua, didasarkan pada karakteristik spasial dan formal dari tipe itu sendiri. Tipe-tipe spasial seperti kuil dengan denah berbangun lingkaran dapat ditemukan pada periode sejarah-sejarah yang berbeda dan pada masyarakat yang berbeda pula.

c) Definisi ketiga dari tipologi didasarkan pada pengklasifikasian bangunan menurut penggunaan dan berdasar karakteristik kelembagaannya. Kualitas-kialitas semacam itu konsisten dalam masyarakat yang berbeda dan berlangsung terus-menerus sepanjang sejarah, seperti gereja, sekolah, pemandian, rumah sakit dan sebagainya.

  1. Gianugo Polesello

Tipologi arsitektur dibangun dalam bentuk-bentuk arsip dari ‘given types’, yaitu bentuk-bentuk arsitektural yang disederhanakan menjadi bangun-bangun asal elementernya yang geometrik. Aturannya ialah bahwa ‘given types’ ini berasal dari sejarah, tetapi juga merupakan hasil penemuan. Tetapi jenis-jenis ini selalu merupakan ‘given types’ yaitu elemen-elemen yang merupakan bagian dari suatu sistem (yaitu proyek komposisi), namun juga sekaligus berdiri sendiri dalam sistem tersebut.

  1. Anthony Vidler

Tipologi bangunan adalah sebuah studi/ penyelidikan tentang penggabungan elemen-elemen yang memungkinkan untuk mencapai/ mendapatkan klasifikasi organisme arsitektur melalui tipe-tipe. Klasifikasi mengindikasikan suatu perbuatan meringkas/ mengikhtiarkan, yaitu mengatur penanaman yang berbeda, yang masing-masing dapat diidentifikasikan, dan menyusun dalam kelas-kelas untuk mengidentifikasikan data umumnya dan memungkinkan membuat perbandingan-perbandingan pada kasus-kasus khusus. Klasifikasi tidak memperhatikan suatu tema pada suatu saat tertentu (rumah, kuil, dsb.) melainkan berurusan dengan contoh-contoh konkrit dari suatu tema tunggal dalam suatu periode atau masa yang terikat oleh ke-permanen-an dari karakteristik yang tetap/ konstan (misalnya rumah bergaya Gothik, jalan pada masa abad ke-19, kebun anggur bergaya Roman, dsb). Hal itu menjadi instrumen pemberi tanda dari gejala atau fenomena, yang membandingkan istilah-istilah yang berbeda dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk kota.

  1. Carlo Aymonio

Tipologi suatu bangunan adalah ilmu yang mempelajari kemungkinan penggabungan elemen-elemen dengan tipe-tipe yang tujuannya untuk mendapatkan suatu klasifikasi organisme-organisme arsitektural. Jadi tipe di sini digunakan sebagi alat untuk menggabungkan elemen-elemen sehingga didapatkan klasifikasi.

Suatu studi tentang elemen organisasional dan struktural yang artifisial (dalam arti bukan hanya bangunan tapi juga dinding, jalan, taman, dll. komponen-komponen kota) dalam hubungannya dengan bentuk kota dalam suatu kurun sejarah yang spesifik. Definisi ini didasarkan pada kenyataan bahwa klasifikasi sebagai tujuan dari tipologi tidak hanya mengelompokkan bangunan-bangunan melainkan sudah lebih luas yang mencakup komponen-komponen suatu kota seperti jalan, taman, dan sebagainya.

Pada dasarnya tipologi menurut tujuan klasifikasinya dapat dibedakan atas dua pengertian (lepas dari tujuan nilai-nilai estetika).

Pertama, Tipologi bebas, bertujuan klasifikasi dengan tipe-tipe formal, yang menyediakan suatu metode untuk analisis dan perbandingan untuk fenomena-fenomena seni.

Kedua, Tipologi terapan yang bertujuan klasifikasi dengan tipe-tipe fungsional yang memberikan metode analisis dari fenomena-fenomena yang membentuk suatu keseluruhan.

  1. Budi A. Sukada

Tipologi adalah penelusuran asal-usul terbentuknya objek-objek arsitektural yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: Pertama, menentukan bentuk dasar (formal structures) yang ada di tiap objek arsitektural. Yang dimaksudkan bentuk dasar ialah unsur-unsur geometrik utama, seperti segitiga, segi empat, lingkaran, dan elips, berikut segala variasi masing-masing unsur tersebut. Kedua, menentukan sifat dasar (properties) yang dimiliki oleh setiap objek arsitektural berdasarkan bentuk dasarnya, misalnya: bujur sangkar bersifat statis, lingkaran bersifat memusat dsb. Ketiga, mempelajari proses perkembangan bentuk dasar sampai perwujudannya saat itu.

Tipologi sebagai Metoda

Sebagai suatu metoda, tipologi digunakan sebagai alat analisis objek. Dengan tipologi, suatu objek arsitektural dianalisa perubah-perubahnya, yaitu yang menyangkut bangun dasar, sifat dasar, serta proses perkembangan bangun dasar tersebut sampai ke bentuk yang sekarang serta fungsi dari objek tersebut. Dari hasil analisa tipologi tersebut, kita dapat menentukan tipe dari objek dan menempatkannya secara benar dalam klasifikasi tipe yang sudah ada.

Sebagai suatu metode, tipologi juga dapat digunakan untuk menerangkan perubah-perubah dari suatu tipe, di mana suatu tipe memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan tipe-tipe yang lain. Maksudnya adalah tipologi dapat membantu menerangkan suatu tipe berdasar ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh setiap objek arsitektural.

Menurut Rafael Moneo, analisa tipologi dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu:

  1. Menganalisa tipologi dengan cara menggali dari sejarah untuk mengetahui ide awal dari suatu komposisi; atau dengan kata lain mengetahui asal-usul atau kejadian suatu objek arsitektural.
  2. Menganalisa tipologi dengan cara mengetahui fungsi suatu objek.
  3. Menganalisa tipologi dengan cara mencari bentuk sederhana suatu bangunan melalui pencarian bangun dasar serta sifat dasarnya.

Menurut Carlo Aymonito

Tipologi bangunan seharusnya didefinisikan lagi dalam batasan-batasan dari suatu penelitian yang dilakukan manakala ada kesempatan. Tipologi bangunan merupakan salah satu alat yang diperlukan untuk melakukan studi terhadap fenomena kota. Tipologi bebas/ tipologi formal menyediakan dirinya untuk dipakai sebagai suatu analisis kritis dan perbandingan terhadap fenomena-fenomena seni. Dalam hal ini klasifikasi yang ada disusun berdasarkan kuantitas khas yang formal dan tertentu.

Sebagai metode, tipologi menganalisa suatu objek arsitektural (dalam hal ini bangunan) dan mencoba mencari karakter-karakter khas yang ada, yang akhirnya akan menjadi dasar klasifikasi objek tersebut. Dengan kata lain, karakter khas ini menjadi alat identifikasi objek-objek arsitektural tersebut.

Contoh:

Jika kita meneliti gereja-gereja St. Peter di Roma (Bramate, 1503) dan Pallazo Farnesse di Caprarola (Giacomo da Vignola, 1547), maka kita akan memiliki ciri khas dalam hal ciri organisasi ruangnya yang memusat. Secara tipologi kita akan mengatakan bahwa ciri organisasi yang memusat ini akan menjadi alat identifikasi yang menunjukkan kesamaan tipe dari kedua objek tersebut. Dengan kata lain, 2 objek tersebut dapat digolongkan dalam satu kelas yang sama dalam hal klasifikasi. Tujuan dari klasifikasi ini bukan evaluasi artistik maupun definisi historik.

Adapun tipologi terapan menyediakan metode analisis dari fenomena-fenomena yang membentuk suatu keseluruhan. Dalam hal ini klasifikasi disusun berdasarkan kuantitas khas dari struktural, tidak formal seperti tipologi bebas. Dalam kasus ini, tetapan dari fenomena juga merupakan hasil dari suatu perbandingan kasus-kasus yang konkrit dan itu dipergunakan sebagai alat untuk menciptakan hubungan di antara keberadaan yang berbeda-beda.

Dalam tipologi terapan, definisi historik pun ikut berperan serta. Tipologi terapan memungkinkan kita untuk menciptakan suatu hubungan dengan bentuk kota pada umumnya sebagai suatu istilah dialektika. Hubungan antara tipe bangunan dan bentuk kota secara faktual dan prinsipil tidaklah tetap. Jika pada tipologi bebas karakter-karakter itu dihubungkan dengan waktu dan bentuk kota serta perkembangannya.

Contoh:

Gereja St. Peter Pallazo Farnesse di Caprarola dan beberapa bangunan yang dibangun pada abad pertengahan memiliki karakter yang sama dalam hal organisasi terpusat. Dengan kenyataan ini secara umum kita bisa menyimpulkan bahwa pada zaman Renaisans berkembang suatu langgam arsitektur dengan karakter seperti di atas. Seperti diuraikan di atas hal ini tidak mutlak sebab pada masa-masa berikutnya bisa saja tipe/ langgam seperti ini hadir kembali.

Sebagai metode analisis, khususnya dalam hal menganalisa asal-usul dan perkembangan bentuk dasar, tipologi sering berkaitan dengan morfologi yaitu ilmu yang mempelajari perubahan bentuk. Sebagai sebuah metoda, tipologi berguna sebagai alat untuk ‘melacak’ bentuk-bentuk objek arsitektural sampai didapatkan ‘akar bentukan’ tadi. ‘Akar bentukan’ menyangkut struktur bangun (formal structures) dan sifat-sifat dasar (properties).

Senin, 10 Agustus 2009

Virtual Regionalism

Virtual Regionalism by Robert Moric 
Is it possible to discuss regional architecture and the Northwest without mentioning technology? If regional design is an expression of the culture of a place, it would seem that technology would be an important component in Seattle - home of Microsoft and its many spin-offs. The high-tech industry has already had a direct impact on architecture in the region. The wealth created by Microsoft has built homes for new million- aires and financed major city projects including the new football stadium, the Union Station development, and the Experience Music Project. So what role can technology play in architecture besides bankrolling it? 
To most people, technology and the imagery associated with Northwest style appear to be inherently at odds. It's a clash between silicone and heavy timber, software and stone. This dichotomy seems to persist in theory, too. Kenneth Frampton suggests that one aim of critical regionalism is to resist the globalizing force wrought by technology. But rather than a reflex reaction against modernization, Frampton posits developing a critical stance toward technology. In this context, the term critical does not mean to find fault or be negative. Instead, to be critical - according to social and cultural historian Raymond Williams - means to develop an active and complex relationship with a situation and its context. 
Surprisingly - or perhaps not - the attitude toward technology evidenced in Bill Gates' new residence is highly uncritical. According to Gates in The Road Ahead, the main purpose of technology is to make a house "easier to live in," but upon closer examination it is obvious that entertainment is the only function fulfilled by technology in his own home. High-definition monitors situated throughout the house display movies, television programming, and digital paintings. However, not a single system makes the house more livable by taking care of domestic chores such as cleaning, cooking, or making the bed. Instead, the latest technological advances are primarily used to allure, seduce, and shock. This is analogous to an expensive Hollywood production resorting to the latest special effects in order to entertain. 
The Gates house automatically adjusts air temperature, lighting, music, and digital art as people move from room to room. This is based on personal data programmed into pins worn by family members and select guests. However, this technological application appears to diminish experience by inhibiting spontaneity and promoting the expected and mundane. In order for the system to function optimally, all deviations from the norm need to be eliminated and all activities need to be reduced to a set of predictable tasks that can easily be programmed. Something as unpredictable as a child can cause a glitch in the system. This leads to the inevitable question: will the system serve us or will we have to adjust to the system? 
Although he may not be as savvy about architecture as he is about software, it still seems strange that Gates would feel the need to cloak technology in familiar forms. Rather than expressing the latest technological advances, the reverse is true: technology is cleverly concealed in the Gates residence. At one point in the design process there was a failed attempt to make the screens of the high-definition monitors disappear by electronically displaying a wood grain pattern. As a compromise, monitors are hidden behind sliding wood panels. Throughout the Gates house familiar forms and materials are used to soften the disruptions caused by the numerous technological interventions. The architecture of the house is seductive and can easily be mistaken for regional if evaluated exclusively on its use of heavy-timber, wood finishes, and stone. However, regional architecture should be more than formalism; it should draw on the specificity of the site and local socio-cultural conditions. This points to the irony of using a regional architectural vocabulary as the primary expressive mode for the founder of Microsoft: a company whose hallmark is globalism. 
Another often cited component of Northwest architecture - and a stated goal for the design of the Gates house - is an image of harmony with the natural world. At first glance the huge complex appears to be sub- servient to the landscape by being dug into the side of the hill. Through technology, however, the house renders the site as simply another reference to the man-made. Banks of monitors conjure up idealized and exotic scenes more enticing than the views glimpsed through the windows. Consequently, one becomes insensitive to the natural beauty and idiosyncrasies of the site. By trying to be everywhere at all times it's possible to be nowhere at any particular time: site-less, therefore homeless. 
Even though individual architectural components of the Gates residence are impeccably conceived and executed, the overall design stops short of being successful since technology is treated autonomously. The design expresses a narcissistic view of architecture and technology by fetishizing each without adding significant value to either. Only by critically integrating architecture and technology can we begin to approach what Gilles Deleuze refers to as the machinic phylum: an overall set of self-organizing processes in which previously disconnected elements - man and machine or architecture and technology - reach a synchronous level of cooperation. While the Gates house may not have achieved its full potential, it is still a valuable addition to the discourse since successful experiments merely reinforce our beliefs, but unsuccessful ones force us to modify, to adjust, and to improve. 
Robert Moric holds a Masters in Architecture from Columbia University. He currently teaches and practices in Phoenix. 




Arsitektur Postmodern




Awal Lahirnya Postmodern
Pada tahun 1960-an merupakan titik balik dari jatuhnya Arsitektur Modern. Pada era moderen tersebut timbul protes dari para arsitek terhadap pola-pola yang monotis karena pada dasarnya arsitektur modern berkesan monoton (kebanyakan bangunan tersebut berbentuk kota-kotak). Oleh karenanya, maka lahirlah aliran baru yaitu aliran postmoderen.
Postmodern
Sebelum memahami apa itu arsitektur postmodern sebaiknya kita pahami dulu pengertian dari postmoderen itu sendiri.

Postmodern adalah:

- Paradox, sesudah sekarang.

- Yang kemudian, sesudah sagala waktu.

- Keinginan hidup di luar.

- Pengikat waktu lampau, sekarang, akan datang.

- Lanjutan moderen dan turunannya.
Arsitektur Postmodern
Arsitektur Postmoderen adalah:
- Menembus batas, melewati spesies.
- “Meninjau masa lalu”.
- Meninjau masa datang dengan ironi
- Arsitektur yang menyatukan seni dan ilmu.
- Koreksi dari kesalahan arsitektur moderen.
- Arsitektur yang melepaskan diri dari aturan moderenisme.
- Anak dari arsitektur moderen.
- Regionalisme yang mengganti internasionalisme.
- Representasi fiksional yang menggantikan bentuk geometris.
- Representasi fiksional untuk menunjukkan eksklusivitas bangunan dalam istilah fungsi dan bekerja dalam seni bangunan.

- Bukan simbol dari mesin dan konstruksi sebagai bagian dari proses arsitektur, namun terdiri dari semua tanda terdekat dari desain yang berurutan.

- Keindahan dan estetika menggantikan teknologi, menggambarkan dunia imajinasi lebih untuk membawa kepada dunia baru yang lebih berani.

- Berusaha mengembalikan ingatan masa lalu , mengekploitasi sejarah untuk menimbulkan efek-efek yang lebih menarik.

- Dapat melihat bangunan lebih relatif dengan aspek sejarah, regional, serta memberikan penghargaan yang lebih pada lingkungan.

- Menyangkal referensi sendiri yang dapat menemukan style dari moderen.

- Membangun cita rasa keindahan baru yang jauh dari realitas hidup, fiksi lebih baik dari fungsionalitas.

Secara garis besar era arsitektur postmoderen dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu:

- Arsitektur Purna moderen.

- Arsitektur Pasca moderen dibagi menjadi:

o Late moderen.

o Neomoderen.

o Dekonstruksi.

 Ciri-ciri arsitektur postmoderen adalah:

- Berdasar seni dan ilmu.

- Mempunyai makna (simbolik).

- Eklektikisme (campuran).

- Plural.

- Proses komunikasi /bahasa.

- Me-lokal.

- Ruangan dan bentuk membentuk arsitektur.

Mazhab /Ajaran pada Arsitektur Postmodern
Menurut Charles A. Jencks ada 6 mazhab tentang perkembangan arsitektur yang menyimpang dari fungsionalisme yaitu:

1. Historiscism

Merupakan aliran yang ingin tetap memunculkan komponen bangunan dari komponen klasik.

   

2. Straight Revivalism

Aliran ini sulit menghilangkan langgam yang sudah ada di masyarakat sejak lama seperti renaissance, gothic, islamic.

 

3. Neo Vernacular

Produk bangunan ini tidak menerapkan prinsip bangunan vernakular dengan murni, melainkan menampilkan karya baru (mengutamakan penampilan visual).

 

4. Urbanist

Mempunyai 2 ciri khusus yaitu:

o Ad-hoc

Penambahan komponen baru pada proses pengembangan perancangan tanpa memikirkan posisi dan lokasi yang tepat.

o Kontekstual

Berusaha melayani aspirasi ideal masyarakat, desainnya mengitari lingkungan sekitar.

 

5. Metaphor

Desain mengambil bentuk alam yang fungsional. Berupa referensi yang tersamar.

 

6. Postmoderen Space

Difokuskan pada rancangan spatial interpenetration, di mana dua atau lebih ruang dapat digabung secara overlap dan saling bertemu. Aliran ini mencoba mendefinisikan ruang lebih dari sekedar ruang abstrak dan menghasilkan arti ganda, keanekaragaman dan kejutan.

 

Menurut Robert A.M. Stern makna yang terkandung dalam arsitektur postmoderen adalah:

- Kontekstualism

Desain bangunan dibuat dengan desain bangunan lingkungan sekitarnya, misal dalam bentuk warna dan ukuran.

- Allusionism

Desain arsitektural yang memasukkan unsur sejarah arsitekturnya. Misal sejarah bangunan lama dilibatkan dalam desain bangunan baru.

 




Minggu, 09 Agustus 2009

Aksesibilitas dalam Arsitektur




Aksesibilitas dalam Arsitektur

(by sebastian)

Hingga saat ini pembangunan gedung-gedung di Indonesia sebagian besar cenderung belum mencerminkan keadilan bagi semua orang (semua pengguna). Banyak Bangunan gedung yang belum dapat digunakan oleh kelompok masyarakat yang memiliki kecacatan atau keterbatasan kemampuan fisik.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (UUBG) yang disahkan pada tanggal 16 Desember 2002 terdiri dari 10 bab dan 49 pasal. Sebagai suatu pedoman umum, undang-undang ini mengatur tentang ketentuan bangunan gedung yang meliputi fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, termasuk hak dan kewajiban pemilik dan pengguna bangunan gedung pada setiap tahap penyelenggaraan bangunan gedung, ketentuan tentang peran masyarakat dan pembinaan serta sanksi yang dilandasi oleh asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, dan keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya bagi kepentingan masyarakat yang berperi kemanusiaan dan berkeadilan.
Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi penyandang cacat / diffable ( Diferent Ability ) guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Setiap manusia yang diciptakan tidaklah selalu diberi kesempurnaan fisik, baik yang dibawa sejak lahir maupun pada saat perjalanaan hidupnya. Berdasarkan hal tersebut maka setiap bangunan haruslah memperhatikan elemen-elemen aksesibilitas sehingga bangunan tersebut mampu digunakan oleh semua kalangan.
Kawasan wisata sebagai salah satu tempat rekreasi haruslah bersifat universal dan mampu menjadi wadah bagi setiap orang mulai dari orang normal hingga orang yang memiliki kemampuan terbatas / diffable.Oleh karena itu harus memperhatikan asas-asas aksesibilitas yaitu :
a. KEMUDAHAN, yaitu setiap orang dapat mencapai semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan. 
b. KEGUNAAN, yaitu setiap orang harus dapat mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan. 
c. KESELAMATAN, yaitu setiap bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan terbangun, harus memperhatikan keselamatan bagi semua orang. 
d. KEMANDIRIAN, yaitu setiap orang harus bisa mencapai, masuk dan mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.
 Perencanaan dan perancangan dalam tugas aksesibilitas ini menitikberatkan pada elemen-elemen aksesibilitas pada kawasan taman Sriwedari Surakarta yang dirancang berdasarkan kebutuhan orang untuk bergerak aman, nyaman dan mudah dicapai bagi setiap orang termasuk kaum diffable yang berada di kawasan Sriwedari yang dirasa kurang memenuhi standart aksesibilitas. Berbagai fasilitas bagi kaum diffable perlu direncanakan sebaik mungkin sehingga dapat menciptakan lingkungan binaan yang aksesibel dan mendukung terwujudnya kemandirian kaum diffable dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.




PENGERTIAN ARSITEKTUR REGIONALISME DIMATA ARSITEK


KONSEP DAN PRINSIP RANCANG 
PEMIKIRAN PARA ARSITEK TERHADAP
 ARSITEKTUR REGIONALISME


Secara geografis, setiap wilayah/region memiliki ciri kedaerahan yang berbeda-beda, bergantung pada budaya setempat, iklim dan teknologi yang ada. Karenanya, setiap arsitek di berbagai daerah di seluruh dunia pun memiliki pemikiran tersendiri atas sebuah teori regionalisme. Regionalisme bukan sebuah gaya, melainkan sebuah aliran pemikiran tentang arsitektur1.
 William Curtis
Seorang sejarahwan Willian Curtis melihat Regionalisme dalam arsitektur sebagai respon alami terhadap hegemoni Barat yang berusaha menciptakan suatu arsitektur yang lunak dan mirip (serupa) didalam pengembangan pusat-pusat urban (kota) yang sangat cepat di Dunia Ketiga. William Curtis yang merefleksikan jalan pemikiran ini, mencatat bahwa disana ada momentum pertemuan suasana hati yang menolak reproduksi yang fasih menurut formula internasional dan yang sekarang mencari kontinuitas di dalam tradisi lokal.2
 Rapoport
  Rapoport menyatakan bahwa Regionalisme meliputi “berbagai tingkat daerah” dan “kekhasan”, dia menyatakan bahwa secara tidak langsung identitas yang diakui dalam hal kualitas dan keunikan membuatnya berbeda dari daerah lain. Hal ini memungkinkan mengapa arsitektur Regional sering diidentifikasikan dengan Vernakuler, yang berarti sebuah kombinasi antara arsitektur lokal dan tradisional ( asli ).
 Frampton ( dalam bukunya Modern Architecture and the Critical Present, 1982 )
Regionalisme tidak bermaksud menunjukkan Vernakuler sebagai suatu hasil hubungan interaksi iklim, budaya, dan hasil karya manusia, akan tetapi lebih pada mengidentifikasikan Regional yang tujuannya telah dihadirkan kembali dan disediakan dalam jumlah tertentu. Regionalisme tertentu, pendefinisiannya pada hasil eksplisit atau implisit antara masyarakat dan pernyataan arsitektural, maka antara kondisi awal ekspresi regional tidak hanya kemakmuran lokal tetapi juga rasa yang kuat akan identitas. 

 Peter Buchanan
( dalam bukunya The Architectural Review, Mei 1983 ) 
Regionalisme adalah kesadaran diri yang terus menerus, atau pencapaian kembali, dari identitas formal atau simbolik. Berdasar atas situasi khusus dan budaya lokal mistik, regionalisme merupakan gaya bahasa menuju kekuatan rasional dan umum arsitektur modern. Seperti budaya lokal itu sendiri regionalisme lebih sedikit diperhatikan dengan hasil secara abstrak dan rasional. Dan lebih dengan penambahan fisik, lebih dalam dan nuansa pengalaman hidup 
 Rory Spence
  Dalam sebuah artikel yang berjudul “ The Concept of Regionalism Today : Sydney and Melbourne considered as contrasting phenomena “ ( Transition : Discourse on Architecture, July 1985 ), Rory menyatakan bahwa :
Regionalisme dalam arsitektur merupakan bagian dari seluruh pengarahan kembali atas kualitas hidup, sebagai penentangan terhadap penghapusan paham perluasan ekonomi dan kemajuan material dalam hal pembiayaan. Hal ini lebih memusatkan perhatian pada para pengguna bangunan daripada penyediaan perluasan ekonomi dan material. Seharusnya hal ini juga dibedakan dengan jelas dari keraguan yang berlebihan atas sebuah konsep arsitektur nasional.
 Chris Abel, dalam Perubahan Regional ( The Architectural Review, November 1986 ) menyatakan bahwa :
Regionalisme berusaha untuk melihat kembali arsitektur Modernisme yang nampak, yaitu secara berkesinambungan dalam memberi tempat antara bentuk bangunan masa lalu dengan masa sekarang.
 Kenza Boussora (Algeria)
Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Boussora dapat disimpulkan bahwa tujuan dari regionalisme, dalam beberapa kasus, kemunculannya tidak dapat diterapkan, karena adanya ketidaksesuaian atau ketidakcocokan antara tujuan dan hubungan secara khusus yang mana sebuah bangunan didirikan. Boussora mengambil contoh-contoh permasalahan di Algeria yang mana tidak sesuai dengan tujuan dari regionalisme. Dua diantaranya adalah seperti yang disebutkan dibawah ini: 
 Bagaimana untuk mencapai keselarasan (kesesuaian) dengan sumber-sumber dimana tidak mencukupi untuk merespon kebutuhan dengan cepat bagi penyediaan perluasan bangunan.
 Sebagian besar proyek digambarkan dalam literatur pada regionalisme sebagai sebuah bangunan kecil terutama bangunan individu dalam plural area. Masalahnya bahwa arsitektur modern telah mencoba untuk memecahkan permasalahan yang ada di Algeria; yaitu, bagaimana menyediakan sejumlah besar tipe-tipe bangunan yang berbeda, bagian-bagian rumah secara cepat dan rendah biaya pada penyediaannya
 Tan Hock Beng, dalam bukunya Tropical Architecture and Interiors : Tradition-Based design of Indonesia-Malaysia-Singapore-Thailand ( 1994) menyatakan bahwa : 
Regionalisme dapat didefinisikan sebagai suatu kesadaran untuk membuka kekhasan tradisi dalam merespon terhadap tempat dan iklim, kemudian melahirkan identitas formal dan simbolik ke dalam bentuk kreatif yang baru menurut cara pandang tertentu dari pada lebih berhubungan dengan kenyataan pada masa itu dan berakhir pada penilaian manusia. Hanya ketika kita mengenali bahwa tradisi kita merupakan sebuah warisan yang berevolusi sepanjang zaman akan dapat menemukan keseimbangan antara identitas regional dan internasional. Para arsitek perlu untuk memutuskan prinsip yang mana masih layak untuk saat ini dan bagaimana cara yang terbaik untuk menyatukan metode persyaratan untuk bangunan modern dan metode konstruksi pada umumnya.
Pada kenyataannya ada beberapa pandangan yang jelas sekali dan ada yang tidak jelas.
Pada awalnya regionalisme telah dihubungkan pada “pandangan identitas” ( Frampton, dan Buchanan ). Pengertian ini timbul karena keterpaksaan menerima tekanan modernisme yang menciptakan “universalism” (Buchanan); melalaikan “kualitas kehidupan” (Spence) atau “jiwa ruang”(Yang); dan mengambil “kesinambungan” (Abel). Arsitektur tradisional tidak menyatu dalam desain modern. Karena arsitektur tradisional mungkin memiliki karakteristik sendiri untuk setiap wilayah; menciptakan kualitas kehidupan ‘terbaik’ dalam sebuah masyarakat tradisional dan menjadi sangat responsif atas kondisi geografis dan iklim dalam suatu tempat tertentu; dan menunjukkan sebuah kesinambungan dalam hasil karya arsitektural dari masa lalu ke masa kini. Tapi bukanlah suatu cara yang sederhana untuk mengangkat arsitektur tradisional. Pengangkatan arsitektur tradisional ke dalam desain modern membutuhkan pengertian yang luas dan terbuka atas budaya internasional (Chardirji).  
Berdasarkan hal diatas arsitektur regional oleh para arsitek di atas dapat disimpulkan sebuah definisi yang lebih lengkap yang mana definisi ini dapat diterima untuk segala jaman, yaitu definisi menurut Tan Hock Beng.
Berdasarkan definisi Tan Hock Beng dapat diklasifikasikan dalam 6 strategi regionalisme, yaitu :
1. Memperlihatkan identitas tradisi secara khusus berdasarkan tempat/daerah dan iklim.
2. Memperlihatkan identitas secara formal dan simbolik ke dalam bentuk baru yang lebih kreatif.
3. Mengenalnya sebagai tradisi yang sesuai untuk segala zaman.
4. Menemukan kebenaran yang seimbang antara identitas daerah dan internasional.
5. Memutuskan prinsip mana yang masih layak/patut untuk saat ini (aktual).
6. Menggunakan tuntutan-tuntutan teknologi modern, dari hal yang tradisional digunakan sebagai elemen-elemen untuk langgam modern.




REGIONALISME KONSEPTUAL


REGIONALISME KONSEPTUAL

II.1 PENGERTIAN REGIONALISME KONSEPTUAL
  Secara umum, prinsip regionalisme adalah suatu aliran yang mencoba memunculkan ciri khas/identitas regional (daerah/lokal), dimana identitas ini dahulu sempat hilang akibat perkembangan Arsitektur Modern.
  Regionalisme  berasal dari kata “ Region”
 To Rule (aturan) dalam suatu region 
  Regionalisme merupakan salah satu langgam arsitektur era pasca modern yang cenderung menonjolkan unsur-unsur lokal dari suatu tempat (daerah) dimana sebuah bangunan itu didirikan. Konseptual adalah teori-teori atau prinsip dasar yang selalu dipakai dalam merencanakan dan merancang sebuah desain bangunan.
Jadi Regionalisme Konseptual adalah suatu proses perencanaan dan perancangan suatu karya arsitektural yang selalu menggunakan teori-teori atau prinsip dasar atau konsep berdasarkan langgam arsitektur era pasca modern yang cenderung menonjolkan unsur-unsur lokal dari suatu tempat (daerah) dimana sebuah bangunan itu didirikan.
 Regionalisme sebagai salah satu mazab yang dikembangkan dalam arsitektur post modern dikenalkan oleh Henri Klotz dalam bukunya “The History of Post Modern”, merupakan salah satu solusi sebagai protes atas modernisme atau International Style, yang cenderung menonjolkan unsur-unsur lokal sari suatu tempat (daerah) dimana sebuah bangunan itu didirikan. Regionalisme merupakan usaha menggabungkan arsitektur tradisional dan modern serta mempresentasikan arsitektur ideal yang dominan pada suatu wilayah budaya (lokal). Regionalisme diartikan sebagai “cultural landscape” yang pada dasarnya bukan hanya arsitekturnya saja tetapi juga keadaan fisik, budaya masyarakat, alam yang dapat memunculkan identitas regional. Regionalisme berkembang di Asia dan negara Islam diperkirakan sekitar tahun 80an dengan menonjolkan identitas lokasl daerah masing-masing.

II.2 REGIONALISME SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF
 Bermula dari munculnya arsitektur modern yang berusaha meninggalkan masa lampaunya, menungggalkan ciri serta sifat-sifanya. Muncullah usaha untuk “mempertautkan” antara yang lama dan yang baru. Aliran-aliran tersebut antara lain tradisionalisme, post modernisme dan regionalisme.
 Tradisionalisme timbul sebagai reaksi terhadap tidak adanya kesinambungan antara yang lama dan yang baru, merupakan peleburan/penyatuan antara yang lama dan yang baru, sedangkan post modernisme berusaha menghadirkan yang lama dalam bentuk universal.
 Regionalisme diperkirakan berkembang sekitar tahun 1960. Sebagai salah satu perkembangan arsitektur modern yang mempunyai perhatian besar pada ciri kedaerahan, terutama tumbuh di negara berkembang. Ciri kedaerahan yang dimaksud berkaitan erat dengan budaya setempat, iklim dan teknologi pada saatnya. 
Regionalisme ada dua macam, yaitu:
 Concrete Regionalism
Yaitu pendekatan kepada ekspresi daerah atau regional dengan mencontoh kehebatannya, bagian-bagiannya atau seluruh bangunan di daerah tersebut. Bangunan tersebut akan dapat diterima dalam bentuknya yang baru dengan memperhatikan nilai-nilai yang melekat pada bentuk aslinya dan tetap mempertahankan kenyamanan pada bangunan baru ditunjang oleh kualitas bangunan lama.
 Abstract Regionalism
Yaitu menggabungkan unsur-unsur kualitas abstrak bangunan misalnya massa, padat dan rongga, proporsi, rasa meruang, penggunaan pencahayaan dan prinsip-prinsip struktur dalam bentuk yang diolah kembali.
• Responsive dari iklim, didasarkan pada pendekatan klimatologi (iklim) muncul bangunan/elemen yang spesifiknuntuk mengoptimalkan bangunan yang responsive terhadap iklim
• Pola pola budaya/perilaku, sebagai penentu tata ruang, hirarki, sifat ruang yang dipakai untuk membangun kawasan agar sesuai dengan keadaan sosial budaya masyarakat tersebut
• Ikenografik (simbol-simbol), memunculkan bangunan-bangunan modern yang baru tapi menimbulkan representasi (simbol masyarakat) makna-makna yang sesuai/khas
 Menurut William Curtis, regiolisme diharapkan dapat menghasilkan bangunan yang bersifat badi, melebur atau menyatukan antara yang lama dan yang baru, antara regional dan universal. Lama dalam kaitan di sini arsitektur masa lampau atau tradisional, sedangkan baru berarti arsitektur masa kini atau arsitektur modern. Arsitektur tradisional mempunyai lingkup regional, sedangkan arsitektur modern mempunyai lingkup universal. Dengan demikian yang menjadi ciri utama Regionalisme adalah menyatunya arsitektur tradisional dengan arsitektur modern.




SEKILAS MENGENAI ARSITEKTUR POST MODERN




SEKILAS MENGENAI ARSITEKTUR POST MODERN

I.1 PENGERTIAN POST MODERN
Postmodern bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan, teori. Masing-masing mengherankan bila ada yang menggelarkan pengertian sendiri tentang dan mengenai Postmodern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa postmodern itu berarti ‘sehabis modern’ (modern sudah usai); ‘setelah modern’ (modern masih berlanjut tapi tidak lagi populer dan dominan); atau yang mengartikan sebagai ‘kelanjutan modern’ (modern masih berlangsung terus, tetapi dengan melakukan penyesuaian/adaptasi dengan perkembangan dan pembaruan yang terjadi di masa kini).

I.2 INTERPRETASI ARSITEKTUR POST MODERN
Arsitektur Postmodern tidak dapat dipisahkan dengan Arsitektur Modern karena Arsitektur Post Modern merupakan :
1. Kelanjutan Arsitektur Modern
2. Reaksi terhadap Arsitektur Modern
3. Koreksi terhadap Arsitektur Modern
4. Gerakan melengkapi dari apa yang masih belum terpenuhi dalam arsitektur modern
5. Menyodorkan alternatif sehingga arsitektur tidak hanya satu jalur saja
6. Memberi kesempatan untuk menangani arsitektur dari kemungkinan-kemungkinan, pendekatan-pendekatan dan alternatif-alternatif yang lebih luas dan bebas
Dengan demikian mempelajari arsitektur Post Modern tidak bisa tanpa melalui Arsitektur Modern karena Arsitektur Post Modern merupakan langkah atau tindak lanjut terhadap evaluasi yang dilakukan mengenai arsitektur Modern.
Arsitektur Post Modern merupakan arsitektur yang telah melakukan feedback/umpan balik terhadap Arsitektur Modern.

I.3 POKOK-POKOK PIKIRAN ARSITEK POST MODERN
Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting itu.
1. Tidak memakai semboyan Form Follows Function 
Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.
2. Fungsi (bukan sebagai aktivitas atau apa yang dikerjakan oleh manusia terhadap arsitektur)
Yang dimaksud dengan ‘fungsi’ di sini bukanlah ‘aktivitas’, bukan pula ‘apa yang dikerjakan/dilakukan oleh manusia terhadap arsitektur’ (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang ‘fungsi’ yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur posmo yang dimaksud fungsi adalah peran dan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia, yang disebut manusia bukan hanya pengertian manusia hanya pengertian manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja melakukan kegiatan, tetapi sebagai manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori. Manusia bukan manusia sebagai makhluk biologis tetapi manusia sebagai pribadi.
Dalam posmo, perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu:
 Aritektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik melindungi nyawa maupun harta, mulai nyamuk sampai bom)
 Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat
 Arsitektur mempunayi fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan
 Arsitektur berfungsi untuk menyandarkan manusia akan budayanya akan masa silamnya
 Arsitektur memberi kesempatan pada manusia untuk bermimpi dan berkhayal
 Arsitektur memberi gambaran dan kenyataan yang sejujur-jujurnya
3. Bentuk dan Ruang
Di dalam posmo, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat), keduanya menjadi 2 komponen yang mandiri, sendiri-sendiri, merdeka, sehingga bia dihubungkan atau tidak.
Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang.
Ciri pokok dari bentuk adalah ‘ada dan nyata/ terlihat/ teraba’, sedangkan ruang mempunyai ciri khas’ ada dan tak terlihat/ tak nyata’. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya.

I.4 KONSEP ARSITEKTUR POST-MODERN
Arsitektur post-modern merupakan arsitektur yang berbeda pandangan serta konsepnya terhadap arsitektur sebelumnya, yaitu Arsitektur modern. Arsitektur modern mempunyai pandangan atau idiologi yang anti terhadap sejarah, identitas atau pengenal, dan anti manusia sebagai elemen desain dalam arsitektur. Sebaliknya, Arsitektur Post-modern berusaha memunculkan kembali karakteristik sejarah, yang dilengkapi dengan jati diri atau identitas dan berusaha memperlihatkan ciri arsitektur yang dekoratif serta elemen-elemen tambahan guna lebih mengesankan keindahan arsitektur tersebut.
  Arsitektur Post-modern banyak mengambil langgam-langgam arsitektur lama, karena menganut pemahaman bahwa Arsitektur post-modern merupakan bagian dari perjalanan sejarah manusia atau berhubungan dengan seni (art history). Gaya yang dipakai biasanya adalah langgam arsitektur Yunani sampai dengan Neo-klasik. Langgam-langgam yang selalu dihadirkan dalam perancangan arsitektur post-modern selalu bervariasi.




ARSITEKTUR NEOMODERN



ARSITEKTUR NEOMODERN

 Bermula dari runtuhnya arsitektur modern terakhir yang disebut juga “International Style”, arsitektur postmodern terus berkembang menjadi banyak aliran. Diantaranya yaitu aliran Neo Modern.

Aliran Neo Modern muncul pada masa antara tahun 1980 seiring dengan perkembangan jaman sejak dinyatakannya kematian arsitektur modern (1975) dan kemudian ditandai munculnya bangunan-bangunan baru postmodern. Neo Modern juga berkembang bersamaan dengan aliran Dekonstruksi dimana arsitek-arsitek besar pada masa itu seperti Frank Gehry, Peter Eisenman, Rem Koolhaas, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Fumihiko Maki, Kazuo Shinoara, dan lain-lain yang menghasilkan karya-karya Neo Modern dan Dekonstruksi. Karya-karya arsitektur Neomodern sangat bertentangan dengan sifat klasik (clasissism)

Ciri-ciri yang mendasar pada bangunan-bangunan Neomodern yaitu :

1. Memiliki konsep yang spesifik seperti bangunan-bangunan postmodern aliran lainnya pada umumnya. Dapat bersifat abstrak tetapi juga merepresentasikan sesuatu, tidak hanya sebagai stilasi dari suatu bentukan tertentu.

2. Masih memperlihatkan kejelasan struktur dan sainsnya dengan ide-ide yang inovatif, beralasan dan masuk akal.

3. Pertimbangan yang sangat mendasar terhadap karakter bangunan dengan tetap memperhatikan segi manusia yang menggunakannya.

4. Pada umumnya merupakan pengembangan / lanjutan dari bentukan-bentukan sederhana melalui konsep-konsep dan rekayasa baik secara karakter bangunan maupun fungsi struktur serta sains dengan pemikiran yang mendalam.

5. Keseragaman dan keserasian pada facade bangunan lebih diutamakan dengan penggunaan bahan dan warna terkadang bersifat monoton namun inovatif.

6. Memadukan unsur-unsur yang berkesan mungkin dan yang tidak mungkin.

 

Ciri-ciri diatas merupakan ciri-ciri umum yang dapat terlihat secara visual dari bangunan Neomodern. Untuk mengungkapkannya, para arsitek Neomodern memanfaatkan bentuk, penggunaan material dan warna serta struktur dan teknologi yang membuat Neomodern berkembang juga menjadi beberapa aliran seperti Plastism, Suprematism, High-tech dan lain-lain.

Dalam aliran Plastism, banyak digunakan bentukan-bentukan yang berkesan fleksibel dengan banyak kurva serta lengkung. Bentukan yang fleksibel ini membuat bangunan lebih dinamis dan memiliki karakter. Bentukan tersebut tidak selalu bersifat struktural, seringkali bersifat dekoratif namun menyatu dengan bangunan dan bukan sekedar “tempelan” baik secara facade maupun interior bangunan caranya dengan menggunakan warna dan material bangunan yang inovatif. Intinya aliran Plastism berusaha mengemukakan ide melalui bentukan-bentukan yang tidak umum dari sebuah bangunan dengan.

Aliran Suprematism mengutamakan perekayasaan bentuk dari bentukan yang umum. Dari arti kata “suprematis” sendiri yaitu melawan hal-hal yang bersifat lampau dan natural, aliran ini berusaha mengiterpretasikannya kedalam bangunan dengan merekayasa segala hal yang bersifat umum pada bangunan. Misalnya dinding, kolom bahkan lantai yang miring. Istilah disposisi merupakan hal yang wajar dalam aliran Suprematism dalam mengemukakan ide dan konsep. Namun aliran ini memusatkan perhatian pada bangunan dari segi konsep bentukan yang mengarah pada karakter bangunan tanpa mempertimbangkan fungsi secara mendalam. Sense of art sangat terlihat dalam bangunan-bangunan karya aliran Neomodern-suprematism.

Aliran High-tech biasanya menggunakan struktur yang ekstrim untuk “memaksakan” bentuk yang sesuai dengan konsep/ide. Namun dalam hal ini juga dipertimbangkan fungsi secara sains yang menunjang kenyamanan manusia penggunanya. Aliran-aliran dalam Neomodern sebenarnya tidak baku karena setiap arsitek dalam mengemukakan idenya berbeda-beda, namun tujuan dan pemikiran dasar dapat dikategorikan dalam Neomodern.

Anti-Postmodern, Anti-Clasisisme, Anti-Disneyland, Anti-Deniel, juga Neo-Classic/Classicisme. Kadang mengembangkan postmodern dan late modern sebagai perbendaharaan abstrak. Gehry telah mengembangkan ruang Postmodern dari Charles Moore serta Late modern sebagai perbendaharaan absrak dari karya-karyanya. Gehry juga menyimpulkan argumentasi-argumentasi mengenai Postmodern yang dianut oleh Charles Jenks, Charles Moore, Michael Grraves tetapi tidak menganutnya.

 

 



Kriteria Pembentuk Suasana Ruang secara Psikologis



Kriteria Pembentuk Suasana Ruang secara Psikologis

(by sebastian)

a. Tata Ruang Tata ruang merupakan usaha untuk mengelola atau mengolah pembentukan elemen ruang melalui pengaturan entitas permukaannya.Dengan pemikiran ini maka terdapat elemen ruang yang diatur dan elemen ruang yang tidak diatur. Namun demikian ruang-ruang ini pun dapat pula diatur dalam suatu tatanan(Ilya fajar Maharika,1999).Secara lebih lugas tinjauan tata ruang dibedakan lagi menjadi tata ruang luar dan tata ruang dalam.1) Tata ruang luarDiintrepestasikan sebagai unsur linier sebagai pengorganisir/ pembentuk utama untuk menyatukan deretan ruang dengan berbagai macam jalan yang menyertainya. Bagian kerja dari tata ruang luar akan meliputi : tata lansekap, tata massa, pola sirkulasi. Elemen-elemen ruang luar seperti, pohon, tanaman hias, kursi taman, lampu dan pedestrian perlu diperhatikan untuk tujuan mendukung proses rehabilitasiRuang luar termasuk salah satu bagian dari terapi rekreatif (recreational theraphy), bagi reabilitan.Taman dapat merupakan lingkungan sosialisasi maupun privacy. Untuk kebutuhan ini dapat disediakan tempat duduk, dimana orang dapat duduk sambil menikmati alam dengan tata letak tempat duduk dan sosialisasi.2) Tata Ruang Dalam,Menurut Todd W.Kim ,tata ruang dalam didefinisikan sebagai suatu yang dapat mewadahi kegiatan yang spesifik yang bertalian dengan ukuran baik interior, organisasi atau hubungan ruang lingkup kerja yang terdapat pada tata ruang dalam akan berupa: proporsi, bentuk ruang, warna, tekstur, Tata letak dan bentuk furniture,pencahayaan.b. Skala  Skala adalah aspek dalam bangunan yang membuat bangunan dapat dimengerti oleh kita, ia memberi kita suatu pengertian akan bagaimana berhubungan terhadap bangunan(Frank Orr,1987).Skala dalam arsitektur menunjukan perbandingan antara elemen bangunan atau ruang dengan suatu elemen tertentu yang ukurannaya sesuai bagi manusia.(Ir.Rustam Hakim)1) Skala ruang luarYaitu merupakan keberadaan bangunan dengan kondisi lingkungan (ruang)sekitarnya. Menurut Yoshinabu Ashihara dalam bukunya Eksterior Design In Architecture, perbandingan jarak pengamat(D) dengan tinggi bangunan(H) merupakan batas perubahan nilai dan kualitas ruang.D/H< h =" 1:keseimbangan">2 :jarak bangunan agak kebesaran.Untuk perletakan bangunan yang sama D/H=1,2,3 paling sering dipergunakan.Tetapi bila melampaui D/H=4, interaksi bersama mulai hilang dan interaksi di antara bangunan sukar dirasakan, kecuali kalau kita menyediakan beberapa pertalian struktural seperti lorong di luar ruangan.Sedangkan besar plaza, menurut Camillio Sitte, mengikuti perbandingan sebagai berikut :1

Pencahayaan



Pencahayaan

(by Sebastian)

Iluminasi adalah pencahayaan dimana menurut sumbernya dibedakan menjadi dua yaitu pencahayaan alami yang bersumber pada matahari, dan pencahayaan buatan yaitu pada ruang-ruang dalam dengan menggunakan lampu. Pada pencahayaan buatan diperlukan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan agar diperoleh efek yang positif terutama bagi manusia sebagai faktor utama dalam setiap perancangan ruang. Sedangkan dalam mendesain pencahayaan yang bersumber pada matahari juga harus diperhatikan paling sedikit tiga faktor berikut ini: 
 Intensitas cahaya, matahari memiliki efek pada produksi hormon manusia selain dapat menghasilkan vitamin D.
 Pemilihan waktu dan terbitnya matahari, lamanya terkena sinar matahari berpengaruh terhadap psikologi manusia. Pernyataan ini dikuatkan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pada musim salju, banyak terjadi stress yang dikarenakan kurangnya durasi terkena sinar matahari.
 Spektrum matahari, yang terdiri dari panjang gelombang yang berbeda-beda. Dan masing-masing menimbulkan efek yang berbeda pada tubuh manusia.
Cahaya adalah syarat mutlak bagi manusia untuk melihat dunianya. Manusia membutuhkan cahaya untuk beraktivitas dengan sehat, nyaman dan menyenangkan. Matahari sebagai sumber cahaya alami utama dicintai karena memberi energi(panas dan cahaya) berlimpah, namun juga dibenci karena menyebabkan ketidaknyamanan. Karena sinar langsung matahari membawa serta panas, maka cahaya yang dimanfaatkan untuk pencahayaan ruangan adalah cahaya bola langit. Sinar langsung matahari hanya diperkenankan masuk ke dalam ruangan untuk keperluan tertentu atau bila hendak dicapai efek tertentu. Oleh karena itu bagi arsitek perlu diingat dua hal penting: 
 Pembayangan; untuk menjaga agar sinar langsung matahari tidak masuk ke da;am ruangan melalui bukaan. Teknik pembayangan antara lain dengan memakai tritisan dan tirai.
 Pengaturan letak dan dimensi bukaan untuk mengatur agar cahaya bola langit dapat dimanfaatkan dengan baik.
 Pemilihan warna dan tekstur permukaan dalam ruang dan luar untuk memperoleh pemantulan yang baik(agar pemeratan cahaya efisien) tanpa menyilaukan mata.
Penghijauan lingkungan adalah salah satu cara terbaik untuk mengatasi kesilauan, dengan tumbuhan rendah dan rerumputan, kesilauan tanah dapat dihindari, gegitu juga kesilauan dari ats dapat dicegah dengan pohon yang tinggi. 
Hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain pencahayaan buatan adalah distribusi cahaya dalam ruang tersebut. distribusi cahaya yang tidak merata atau terjadi perbedaan iluminasi yang sangat besar pada suatu permukaan akan dapat menimbulkan kesilauan (glare) dimana dapat mengurangi kenyamanan visual. Selain itu glare juga dapat disebabkan karena pemantulan dari benda-benda yang ada dalam suatu ruang, oleh karena itu juga perlu dipikirkan jenis benda seperti apa yang akan diletakkan di dalamnya. Glare diklasifikasikan menjadi tiga sesuai dengan tingkat kesilauannya :  
 Discomfort glare yaitu glare yang menyebabkan ketidaknyamanan tetapi tidak terlalu mengganggu visual.
 Disabilitiy glare yaitu glare yang dapat mengganggu pandangan visual sehingga timbul rasa tidak nyaman.
 Blinding glare yaitu glare yang sangat besar dan terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga tidak ada obyek yang dapat dilihat.




Sabtu, 08 Agustus 2009

KONSERVASI BANGUNAN DAN LINGKUNGAN




 KONSERVASI BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

(by Sebastian)

Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik. Konservasi dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Adapun teori dalam penataan kawasan adalah :
a. Adaptasi/ revitalisasi
Adalah merubah tempat agar dapat digunakan yang lebih sesuai. Yang dimaksud dengan fungsi yang lebih sesuai adalah kegunaan yang tidak menuntut perubahan drastis atau yang hanya menuntut sedikit dampak minimal.
b. Rekonstruksi
Adalah mengembalikan suatu tempat semirip mungkin dengan keadaan semula, dengan menggunakan bahan lama maupun bahan baru.
c. Preservasi 
Adalah pelestarian suatu tempat persis seperti keadaan aslinya tanpa ada perubahan, termasuk upaya mencegah kehancuran.
d. Restorasi
Adalah upaya memasang / mengembalikan unsur-unsur awal yang terdapat pada suatu bangunan/ linkungan dan menghilangkan unsur-unsur tambahan yang baru.
e. Rehabilitasi

Adalah mengembalikan kondisi suatu bangunan atau unsur-unsur kawasankota yang telah mengalami kerusakan, kemunduran, ataru degradasi kepada kondisi aslinya sehingga dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya.

Mengingat hal itu dalam usaha konservasi perlu digariskan sasaran yang tepat antara lain:

a. Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.
b. Memanfaatkan peninggalan obyek pelestarian yang ada untuk menunjang kehidupan masa kini.
c. Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perkembangan perencanaan masa lalu yang tercermin dari obyek pelestarian tersebut.
d. Menampilkan sejarah pertumbuhan kota/ lingkungan dalam ujud fisik tiga dimensi.
Didalam menentukan arah pembangunan suatu kawasan atau bangunan, kita perlu memiliki motivasi-motivasi:
a. Motivasi untuk mempertahankan warisan budaya atau warisan sejarah.
b. Motivasi untuk menjamin terwujudnya variasi dalam bangunan perkotaan sebagai tuntutan aspek estetis dan variasi budaya masyarakat.
c. Motivasi ekonomis yang menganggap bangunan-bangunan yang dilestarikan tersebut dapat meningkatkan nilainya apabila dipelihara sehingga memiliki nilai komersial yang lebih tinggi.
d. Motivasi simbolis dimana bangunan-bangunan yang merupakan manifestasi fisik dan identitas suatu kelompok masyarakat tertentu yang pernah menjadi bagian dari kota.



GREEN ARCHITECTURE



GREEN ARCHITECTURE

(by Sebastian)

Green Architecture adalah sebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien dan optimal.  

Hal ini telah dilakukan dengan pemanfaatan kondisi lingkungan dengan bukaan yang optimal. Di jaman sekarang jarang ada contoh bangunan yang menggunakan pendekatan green architecture. Kita mungkin perlu melihat balik kepada aesitektur vernakuler yang banyak mendukung pendekatan green architecture. Namun perlu disadari bahwa mendesain bangunan dengan pendekatan green architecture bukan berarti kembali kepada tradisi tersebut. Hanya sikap terhadap pemilihan material dan sumbernya saja dari pendekatan arsitektur vernakuler yang perlu diakomodasi di masa depan.
Konsep arsitektur ini lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, memiliki tingkat keselarasan yang tinggi antara strukturnya dengan lingkungan, dan penggunaan sistem utilitas yang sangat baik. 
Green architecture dipercaya sebagai desain yang baik dan bertanggung jawab, dan diharapkan digunakan di masa kini dan masa yang akan datang. Dalam jangka panjang, biaya lingkungan sama dengan biaya sosial, manfaat lingkungan sama juga dengan manfaat sosial. Persoalan energi dan lingkungan merupakan kepentingan profesional bagi arsitek yang sasarannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup.

Dalam arsitektur ada banyak jalan sehingga bangunan dapat dikatakan “green” dan merespon terhadap masalah pertumbuhan lingkungan. Penyediaan energi yang tidak memadai di negara tropis (salah satunya penghentian arus listrik secara periodik) dan meningkatnya harga tinggi di seluruh dunia merupakan tuntutan akan bangunan yang sesuai dengan iklim, tanpa penyejuk udara mekanis.

PRINSIP-PRINSIP GREEN ARCHITECTURE :

1. Hemat energi
2. Memperhatikan kondisi iklim
3. Penggunaan material bangunan dengan mempertimbangkan aspek perlindungan ekosistem dan sumber daya alam
4. Tidak berimplikasi negatif terhadap kesehatan dan kenyamanan pengguna bangunan
5. Merespon keadaan tapak dari bangunan
6. Menerapkan/menggunakan prinsip-prinsip yang ada secara keseluruhan




Pencahayaan/ Penerangan Buatan




Pencahayaan/ Penerangan Buatan

Suasana gelap dan terang dihasilkan karena adanya sumber energi cahaya yang mengarah ke mata manusia. Sumber cahaya yang menuju ke arah mata ditangkap oleh lensa mata dan diteruskan ke otak melalui syaraf indra mata. Oleh otak manusia, cahaya tersebut diteruskan ke saraf lainnya hingga menimbulkan perasaan yang bermacam-macam. Secara alamiah sumber cahaya adalah matahari, bulan dan bintang, serta beberapa spesies makhluk hidup (kunang-kunang). Sedangkan jenis dan bentuk sumber cahaya buatan antara lain:

a. Api pembakaran dan lilin
b. Lampu minyak (obor, cempor)
c. Lampu minyak gas petromak)
d. Lampu pijar (bulb light)
e. Lampu sorot (spot light)
f. Lampu neon (neon light)

 Aplikasi penerangan cahaya dalam desain antara lain:
a. Penerangan cahaya untuk aksentuasi
 Cahaya dapat digunakan untuk memperjelas elemen atau benda yang akan dijadikan aksentuasi. Misalnya ingin menonjolkan karakter patung Bunda Maria atau Salib dengan menempatkan sumber cahaya di bawahnya. Hal ini menimbulkan suasana dramatis terhadap ruang di sekitarnya. Warna sinar akan membantu dalam menciptakan aksentuasi sesuai tujuan yang diinginkan.
b. Penerangan cahaya sebagai pembentuk bayang-bayang
Efek bayangan yang terjadi akibat sinar cahaya terhadap dinding akan memberikan kesan visual yang atraktif. Bentuk bayangan dapat diatur dengan memindahkan sumber cahaya dari sudut tertentu.
c. Penerangan cahaya sebagai refleksi
Sinar cahaya lampu dapat memberikan refleksi terhadap bebatuan juga refleksi sinar cahaya terhadap air

d. Penerangan cahaya sebagai pengarah sirkulasi

Penempatan sumber cahaya untuk memberi pengarah terhadap jalan setapak.






Jumat, 07 Agustus 2009

Bentuk dan konstruksi





Bentuk dan konstruksi (DK. CHINK)

Bentuk dan konstruksi dalam hal ini tak lepas dari pengaruh suasana ruang. Keduanya selalu berinteraksi timbal-balik. Perwujudan bentuk dan konstruksi dalam hal ini sangat erat kaitannya dengan arsitektur. Lebih mengarah mengenai pekerjaan membangun (ketukangan), menegakkan bangunan dan dari hal tersebut tercipta sebuah suasana. Bentuk dan konstruksi menurut DK. Ching (Teori Ching, Hendraningsih, dkk, 1979) mempunyai ciri-ciri visual sebagai berikut:

1. Wujud adalah hasil konfigurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi-sisi suatu bentuk, yang merupakan ciri-ciri pokok yang menunjukkan bentuk
2. Dimensi adalah panjang, lebar dan tinggi, di mana dimensi-dimensi ini menentukan proporsi
3. Warna adalah corak, intensitas dan nada pada permukaan suatu bentuk. Warna adalah atribut yang paling mencolok yang membedakan suatu bentuk terhadap lingkungannya. Warna juga mempengaruhi bobot visual suatu bentuk
4. Tekstur adalah karakter permukaan suatu bentuk. Tekstur mempengaruhi baik perasaan seseorang pada saat menyentuh maupun kualitas pemantulan cahaya yang menimpa permukaan bentuk tersebut.
5. Posisi adalah letak relatif suatu bentuk terhadap bidang dasar, arah mata angin, atau terhadap bentuk-bentuk lain di sekelilingnya.
6. Orientasi adalah posisi relatif suatu bentuk terhadap bidang dasar, arah mata angin, atau terhadap pandangan seseorang yang melihatnya
7. Skala berkaitan dengan unsur dimensi. Di mana skala ditentukan oleh perbandingan ukuran relatifnya terhadap bentuk-bentuk lain di sekelilingnya.
8. Proporsi, erat kaitannya dengan unsur dimensi dan skala.




WASTU-CITRA


WASTU-CITRA

wastu: Form giving in its totality.
wastu seperti apa yang kita butuhkan di Indonesia? 
citra menunjuk pada tingkat kebudayaan sedangkan guna lebih menuding pada segi ketrampilan atau kemampuan. 
wastu jauh lebih memadai, yang arti aslinya lebih kaya, berunsur: norma kehidupan, kesejatian, pengejawantahan bentuk dari prinsip-prinsip yang absolute, rencana komperehensif, sesuai dengan hierarki kehidupan, dan sebagainya. 
Salah satu unsur guna, kita menemukan unsur lain dalam karya arsitektur manusia yang berkebudayaan: yaitu unsur citra.
Bagaimana seharusnya pendekatan dan pelaksanaan wastu di Indonesia, untuk keuntungan semua orang terlebih lagi mayoritas orang-orang Indonesia yang tidak beruntung?
wastu ada pada teknik, prosa, puisi. Tetapi bila arsitektur/ wastu ingin berpredikat manusiawi berkualitatif tinggi, ia tak pernah akan melupakan segi puisi. Puisi yang telah menjadi wastu.




KONSEP-KONSEP DALAM ARSITEKTUR




KONSEP-KONSEP DALAM ARSITEKTUR

Dalam arsitektur, suatu konsep mengemukakan suatu cara khusus bahwa syarat-syarat suatu rencana, konteks dan keyakinan dapat digabungkan bersama, yang dalam konteks ini dapat berupa paduan dari beberapa unsur yang mungkin berupa gagasan, pendapat dan pengamatan ke dalam suatu kesatuan.

KONSEP
Dalam menggambarkan penyelidikan tentang konsep, para perancang biasanya menggunakan 6 sinonim: gagasan arsitektur, tema, gagasan superorganisasi, parti dan esquisse dan terjemahan harfiah.
gagasan arsitektur adalah konsep yang telah disederhanakan menjadi sebagai arsitektur formal (spt; siang hari, ruang, urutan ruang, integarasi struktur dan bentuk, dan sitting dalam lansekap.) Soal arsitektonis secara spesifik digunakan sebagai dasar perancang dalam pengambilan keputusan. Tiap bagian memiliki pengaruh dalam pandangan umum.

Tema merupakan suatu pola atau gagasan spesifik yang berulang di seluruh rancangan suatu proyek. contoh: karya Charles Moore, Kimbel Art, Gallery Louis I Khan di Fort Worth, Texas, memakai cahaya sebagai tema.

Gagasan superorganisasi adalah acuan terhadap konfigurasi geometris umum atau hierarki yang harus diperhatikan oleh bagian-bagian di dalam proyek yang bertujuan memberi cukup struktur bagi pola sedemikian rupa sehingga masing-masing bagian dapat dikembangkan dengan keistimewaan masing-masing yang secara keseluruhan masih menunjang perancangan.

Parti (skema) dan esquisse (sketsa) adalah produk menurut konsep dan grafik dalam suatu proyek diharapkan dikembangkan suatu konsep dan sketsa pendahuluan dari konfiurasi bangunan. 

Terjemahan harfiah yaitu gambaran suatu tujuan guna mengembangkan suatu konsep dan diagram yang dapat dijadikan rencana sederhana untuk suatu proyek. ( Lorabee Bernes ) jadi konsep harus dapat diekspresikan dalam jenis sketsa. Diagram asli agaknya benar-benar dapat dilihat dan diidentifikasikan dalam bangunan yang telah selesai.

Konsep adalah antitesis dari wawasan-wawasan yang sama sekali belum dianggap tepat. Suatu konsep harus mengandung kelayakan; yang mungkin menunjang maksud-maksud daru cita-cita pokok suatu proyek dengan memperhatikan karakteristik-karakterisitik dan keterbatasab-keterbatasan yang khas dari tiap proyek.

KONSEP DAN ARSITEKTUR DESAIN

Konsep merupakan usaha yang bersifat terpusat. konsep yang layak, adalah yang memadukan hal-hal yang sebelumnya berdiri sendiri. Kemampuan membuat konsep merupakan kemampuan bertindak kreatif dengan identifikasi kurang lebih 10% inspirasi dan 90% bekerja keras.

3 masalah yang menghambat pengembangan keahlian dalam membuat konsep:

1. Masalah komunikas, yang sulit bukan menerangkan masalah kepada orang lian, tapi pada diri sendiri.

2. Kurangnya pengalaman, konsep menjadi sukar untuk diciptakan bila aspek arsitektur tidak dikuasai.

3. Masalah pembangkitan hierarki, akan timbul sulit dalam menentukan suatu konsep yang dianggap baik/buruk.

Pemahaman akan hubungan-hubungan antara gagasan, wawasan dan konsep (idea, kepercayaan dan konsep) akan membantu memecahkan ketiga masalah tersebut.

IDEA
Gagasan merupakan pikiran nyata yang merupakan hasil pemahaman, pengertian atau pengamatan. Bangunan dan rancangan bangunan memiliki banyak keputusan kecil), perlu adanya suatu gagasan-gagasan dan konsep-konsep dalam menanggapi keragaman persoalan yang muncul yang tentunya membutuhkan suatu keahlian.

KEPERCAYAAN / NOTIONS.

Notions sangat mirip dengan ide, kecuali adanya perbedaan secara acak. Notions adalah ide-ide yang diasumsikan secara insubstantial, unsubstantiated, atau bahkan sangat sukar dites dengan ide-ide lain. Notions tidak memiliki aturan dalam suatu konsep formula. Notions oleh Gordon merupakan ide yang masih acak/tdk bisa diterjemahkan. Dalam arsitektur, konsep untuk suatu proyek yang mengabaikan artikulasi dan notions merupakan langkah menuju konsep yang baik. Mahasiswa dapat menemukan notions ketika mereka menemukan konsep.

KONSEP DAN IDE-IDE

Konseo mirip dengan ide, konsep menghasilkan suatu pengertian, kecuali konsep memiliki karakteristik tertentu. Dalam arsitektur, konsep diartikan sebagai banyaknya kebutuhan dalam suatu bangunan yang disatukan dalam pemikiran tertentu yang mempengaruhi disain dan konfigurasinya. Konsep dalam arsitektur merupakan hasil dari kemampuan imajinasi dan menyatukan hal-hal yang tidak sama.

CONCEPTUAL SCENARIOS
Kesatuan konsep menggabungkan elemen-elemen mendai satu baik ambisius dan elusive. Arsitek menawarkan essay atau skenario yang menggabungkan faktor-faktor penting dan ide-ide yang mempengaruhi solusi.
Bangunan merupakan penggabungan konsep-konsep. Arsitektur merupakan pemecahan isu-isu individual. Pemecahan masalah untuk seorang arsitek meminimalisasikan permintaan-permintaan. The Conceptual skenario memperluas pernyataan. konsep diubah menjadi kesimpulan. The conceptual scenario dapat digunakan untuk mengidentifikasikan ide-ide penting dan masalah-masalah yang disimpulkan menjadi suatu pernyataan. Konseptual skenario merupakan produk proses evolusi.

METAFORA DAN PERUMPAMAAN:

Metafora mengidentifikasi hubungan diantara benda-benda dimana hubungan-hubungan yang terjadi lebih bersifat abstrak. Dalam hal ini metafora menggunakan kata-kata "seperti" atau "bagaikan" untuk melukiskan hubungan tersebut.

Intisari:

Pada dasarnya Intisari ialah penyaringan serta pemusatan aspek-aspek persoalan yang rumit menjadi suatu pernyataan yang ringkas dan logis. Suatu pernyataan "intisari" juga dapat merupakan hasil dari penemuan serta identifikasi pokok persoalan. Perancang telah mengembangkan beberapa metode untuk mendapatkan intisari dari suatu proyek dan mentransformasikannya dalam suatu konsep.

Tanggapan Langsung dan Pemecahan Masalah

Konsep tidak hanya memperhatikan fungsi dari seluruh aktivitas dalam bangunan, tetapi konsep dapat dikembangkan menjadi suatu melalui pendekatan secara pragmatis.

Tujuan Akhir

Tujuan yang ingin dicapai oleh arsitek sebaiknya berbeda-beda / menyesuaikan dengan keadaan. Satu konsep tidak dapat diterapkan pada berbagai proyek sebab setiap bangunan memiliki tujuan yang berbeda-beda. 

IKTISAR

Wawasan, gagasan, konsep dan skenario merupakan suatu rangkaian kesatuan kontinum yang dapat menjadi dasar penting bagi arsitektur. Konsep memadukan berbagai unsur menjadi satu keseluruhan yang berkaitan dan memungkinkan arsitek mengerahkan sumber dayanya kepada aspek-aspek perancangan yang terpenting.
Ada lima macam konsep: analogi atau hubungan harfiah, metafora atau hubungan abstrak, intisari atau aspek intrinsik, tanggapan dan pragmatis dan tujuan akhir atau nilai-nilai ekstern.





Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile
Web Hosting