Mau tau soal arsitektur, arsitek, desain, interior, konstruksi?

Selamat Datang.......

selamat datang di dunia arsitektur dan interior...blog ini berisi tentang berbagai informasi seputar dunia arsitektur, desain, seni dan budaya. berbagai hal tentang teori desain bangunan dan lansekap juga diposting di blog ini. ulasan jejak rekam arsitek terkenal dan juga bangunan-bangunan hasil karyanya akan selalu dihadirkan di sini...so..check this out!!! selamat membaca...salam 
Tampilkan postingan dengan label PENELITIAN LAPANGAN DAN STUDI EKSKURSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENELITIAN LAPANGAN DAN STUDI EKSKURSI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2009

Kesederhanaan desain SD Mangunan

SD. Mangunan, Kalitirto, Berbah, Jogjakarta
 SD Kanisius Mangunan ini merupakan SD alternatif yang mengadopsi home-schooling, menghadirkan sekolah sebagai rumah kedua. Bangunan sekolah beratap pelana memanjang berdampingan dengan asrama arita yang mirip dengan bangunan pada kampung Code dan Sendangsono. Konstruksi dari kayu dan bilik-bilik bambu, dengan atap seng pada bangunan sekolahnya. Sedangkan wisma atau asrama arita beratap genteng. Ciri bangunan Mangunwijaya pada bangunan ini adalah terdapatnya 6 tiang kolom dengan dimensi 2 x (3x3 m2). Pola desain sekolah yang bersahabat dengan lingkungan masyarakat sekitarnya tidak menimbulkan kesan kontradiktif.

Pola belajar dengan kurikulum baru 75% Kanisius Mangunan dan 25% kurikulum nasional. Guru dan murid saling komunikatif dan guru mengikuti pertumbuhan psikologis dari anak. Sehingga membuat pola ruang yang terbentuk di sekolah ini berbeda dengan sekolah pada umumnya. Pola tempat duduk merupakan pola diskusi kelompok berbentuk U, dimana guru berbaur sangat dekat dengan para murid. 

Bangunan sekolah ini sangat sederhana sekali. Terdiri dari sekat-sekat ruang dari bilik dan papan kayu. Kuda-kuda kayu terekspose karena tidak tertutup adanya plafond. Ventilasi cukup lebar dan panjang. Ventilasi atau jendela terbuka keatas atau ke samping dengan engsel di tengah dan hampir membagi di tengah-tengah kusen, menyerupai sirip. Lantai ubin dengan tekstur atau cetakan yang mirip anyaman bilik bambu




Selasa, 28 Juli 2009

CERITA WISATA DARI GAJAH MUNGKUR



(by sebastian)

Waduk Gajah Mungkur

1. Lokasi Waduk Gajah Mungkur sekitar 6 km dari Arah Barat Daya Wonogiri. 
2. Sejarah terbangunnya Waduk Gajah Mungkur :
Sebelum tahun 1966 di daerah sepanjang Sungai Bengawan Solo sering terjadi banjir, dan untuk menanggulanginya dibangunlah Waduk Gajah Mungkur yang menenggelamkan 51 desa. Hal ini juga sesuai dengan program pemerintahan saat itu (orde baru), dimana banyak waduk yang dibangun di beberapa daerah, seperti Waduk Karangkates, Waduk Kedung Ombo, Waduk Jati Luhur, dan salah satunya adalah Waduk Gajah Mungkur. Walaupun sebetulnya pembangunan Waduk ini sudah diprogramkan sejak zaman Belanda. 
Untuk Pembangunan Waduk Gajah Mungkur ini, dilakukan survey-survey pendahuluan yang selesai pada tahun 1983, tetapi pada tahun 1980, Waduk tersebut sudah mulai dialiri.
3. Asal nama Waduk Gajah Mungkur
Mungkin selama ini kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa nama Waduk Gajah Mungkur diambil dari Gunung Gajah Mungkur yang berada di sebelah Waduk. Jika memalaki nama desa atau kecamatan yang dibenamkan untuk pembuatan waduk tersebut , maka hal tersebut sangat tidak mungkin, karena ada beberapa kecamatan dan puluhan desa yang turut “disumbangkan” untuk proyek ini.
Kalau kita kebetulan mengunjungi waduk ini maka Gunung Gajah Mungkur dapat diamati dari monumen Bedhol Desa yang ada disebelah Timur bendungan. Tempat lain yang bisa digunakan untuk melihat gunung tersebut adalah dari daerah Nguter Sukoharjo. Menurut beberapa orang di sana dinyatakan gunung itu akan nampak jelas seperti wujud gajah ketika masih hijau namun ketikas musim kemarau dan gersang maka gunung itu tidak nampak jelas seperti Gajah Mungkur.
Nama Gajah Mungkur sendiri dapat diartikan sebagai sosok seekor gajah yang nampak dari belakang. Jadi gunung tersebut seperti “pantat” gajah yang mungkur (membelakangi).
Gunung tersebut seiring dengan pembuatan waduk serba guna dan ternyata memakai nama yang sama atau mungkin diambilkan dari nama gunung itu, tetapi yang terkenal justru Gajah Mungkur sebagai nama bendungan serba guna yang ada.

Potensi...............
Pengembangan potensi pariwisata di kawasan Waduk Gajah Mungkur dibagi dalam beberapa segmen wilayah, hal ini dikarenakan luasan dari Waduk Gajah Mungkur yang terlalu luas untuk dikembangkan menjadi satu kawasan wisata sekaligus. Pengembangan potensi waduk yang telah dilaksanakan oleh pemerintah setempat adalah :
1. PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dengan pemanfaatan elemen terbesar dari Waduk Gajah Mungkur, yaitu air waduk.
2. Sendang Asri , yaiu sendang (danau) yang dikembangkan menjadi obyek wisata dengan disertai fasilitas-fasilitas penunjangnya.
3. Karamba, merupakan pembudidayaan ikan air tawar pada jala yang ditebar di dalam waduk dan Restoran Terapung, yaitu restoran yang ditempatkan di atas danau.
4. Green Belt, pengembangan pariwisata oleh Pemda Dati II Wonogiri dengan pemanfaatan jalur hijau.
5. Asem Legi, pengembangan spot pariwisata pada kawasan Waduk Gajah Mungkur yang saat ini sedang dikembangkan.





Kamis, 23 Juli 2009

PETUALANGAN MENYUSURI GEREJA-GEREJA 1





 Gereja Bunda Maria Sapta Duka, Mendut, Mungkid
1) Tektonika, Makna dan Ruang
 Gereja Bunda Maria Sapta Duka merupakan gereja yang terbuka dan sederhana, gereja yang kecil dibandingkan Gereja Maria Assumpta Klaten. Ruang terbentuk dari denah sederhana segi empat dan merupakan bentuk dasar denah yang dipakai Mangunwijaya pada beberapa bangunannya, sederhana dan efesien untuk kebutuhan ruang. Bentuk bangunan gereja ini mirip dengan rumah-rumah di sekitarnya dengan atap utama pelana, hanya saja tampil menarik dan menyimbolkan gereja dengan hadirnya piramida lonceng yang menjulang ke atas....immaterialitas.
2) Konstruksi Dinding
 Konstruksi dinding dengan berbagai macam teknik pemasangan dan pengolahan bahan. Pada fasade depan gereja, dinding terbuat dari tumpukan batu kali, tampil kokoh dan merupakan filter terhadap bising lalu lalang kendaraan bermotor, karena tepat di samping gereja ini adalah objek wisata Candi Mendhut yang ramai sekali dikunjungi para wisatawan. Dinding batu kali ini bukan merupakan dinding gereja tetapi dinding selasar yang mengarahkan jemaat masuk menuju ruang gereja dari samping. 
Saat masuk ke gereja pertama kali akan terlihat dari samping kiri tipe pemasangan ikatan bata yang merupakan ciri Mangunwijaya yaitu menganyam batu batu. Kemudian masuk ke dalam ruang umat dinding diplester dan bercat putih. Namun untuk mengurangi kemasifan ruangan, semua dinding dibuat perlubangan untuk jendela kaca. Bentuk repetisi jendela kaca vertikal lengkung ini menambah suasana religiusitas gereja karena menghadirkan binar-binar cahaya Ilahi masuk ke dalam ruang gereja

3) Konstruksi kolom dan balok
 Konstruksi kolom dan balok adalah beton bertulang, hanya pada bagian selasar gereja yang menggunakan konstruksi kayu. Balok dibuat dengan cetakan bekisting dari bambu sehingga terlihat guratan-guratan permukaan bambu, dibiarkan bertekstur kasar tanpa acian kemudian finish dengan cat warna putih. Kolom yang berdiameter lingkaran pun di cor dengan metode yang sama dengan relief-relief tonjolan kotak sebagai teksturnya. Antara kolom dan dinding kadang dipisahkan secara jujur dengan eksistensi kolom yang berdiri tunggal tanpa dinding di sampingnya. Ada pula yang bersinggungan dengan perantara jendela kaca vertikal. Sebuah kejujuran dalam mempresentasikan elemen arsitektur.
4) Konstruksi Atap
 Bentuk utama atap adalah pelana pada bagian ruang gereja sedangkan bentuk lain adalah limasan yang diterapkan pada selasar dan atap pintu masuk. Konstruksi kuda-kuda terekspos jelas dan dapat diamati dari ruangan, penggunaan reng, usuk dan atap genteng.  

PETUALANGAN MENYUSURI GEREJA-GEREJA 2





b. Gereja Maria Assumpta, Klaten (Jawa Tengah)
  Gereja Maria Assumpta dibangun pada tahun 1968 terletak di kota Klaten. Gereja yang terbuka, penafsiran baru atas pendopo setiap elemen bangunan dielaborasi dengan sangat intens, kekayaan ragam tektur dan inovasi penanganan bahan. Untuk memahami lebih dalam tentang ciri tektonika bangunan ini terlebih dahulu dapat dilihat model bangunan secara keseluruhan sebagai berikut:
1) Tektonika, Makna dan Ruang
 Gereja Maria Assumpta merupakan gereja yang mempunyai makna sebagai rumah manusia dan rumah Tuhan. Hiruk-pikuk lingkungan sekitar menyatu padu dengan keheningan di dalam gereja. Gereja ini merupakan gereja yang terbuka, hampir tidak ada pembatas dinding yang membatasi gerak manusia atas ruang luar dan dalam. Dinding depan yang terlihat tertutup sebenarnya adalah sebuah gebyok panjang yang menutupi hampir seluruh fasade depan gereja. Jika gebyok ini dibuka untuk keperluan ibadat yang diikuti oleh banyak jemaat maka hampir dipastikan bahwa gereja ini adalah sebuah pendopo yang hadir dengan bentuk yang baru. Berdasar pada sebuah roh teologis dari kitab suci, “yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor 5:17)”, Mangunwijaya tetap menghargai sejarah sisa-sisa bangunan yang lama yang disandingkan dengan gereja yang baru. Nuansa ibadat juga merupakan adaptasi tradisi budaya Jawa, dengan hadirnya gamelan di ruang koor gereja.
2) Konstruksi Dinding
 Konstruksi dinding sebagian besar didominasi oleh dinding batu bata yang diplester dengan metode ‘kamprotan’ atau finishing guratan dari bambu. Selain itu juga dinding roaster yang merupakan cetakan beton hasil kria Mangunwijaya hadir di sela-sela masifnya dinding batu bata. Roaster ini membuat karakter dinding atau beton menjadi lebih ringan karena permukaan yang berongga-rongga tembus cahaya-immaterialitas bahan. Namun tampilan dinding batu-bata ini tidak membuat gereja ini menjadi masif, karena dimanfaatkan sebagai dinding yang menggantung di atas balok-balok (bukan menghalangi gerak) juga banyak pelubangan-pelubangan acak atau mozaik sebagai penghadiran bias-bias cahaya masuk ke dalam ruang gereja. Yang menarik adalah sebuah persandingan dinding lama dan baru gereja yang menandai Mangunwijaya masih menghargai keberadaan sejarah gereja.
3) Konstruksi kolom dan balok
 Struktur kolom dan balok pada gereja ini menggunakan beton bertulang. Beberapa untuk serambi atau selasar menggunakan kolom dari material kayu. Yang paling mencolok adalah hadirnya 3 buah tiang kolom yang membentuk piramid runcing dengan pertemuannya pada balok yang dimensinya sangat besar dan lebar. Struktur ini muncul karena membutuhkan ruang terbuka yang cukup lebar untuk fasade depan, sehingga peran kolom-kolom yang banyak mengisi pada bagian depan gereja diganti dengan struktur kolom tunggal berbentuk piramid. Tipe struktur ini dengan bentang lebar hanya dimungkinkan dengan hadirnya balok besar dengan penebalan pada bagian pertemuan dengan kolom yang membentuk piramid. Lihatlah intensitas ornamentasi yang diberikan. Berawal dari pangkal bawah tiang ornamen relatif sederhana dan besar kemudian berangsur bergerak keatas semakin intens dan kecil. Kesan immaterial tercermin lewat tiang ini.  
 Ada beberapa jenis perlakuan terhadap bentuk kolom beton pada gereja ini. Dicetak dengan cetakan bambu sehingga terlihat guratan-guratan horisontal dari permukan bambu juga bentuk cetakan simbol-simbol yang ada dalam kitab suci. Kolom inipun kaya warna, kaya pada eksperimen bentuk, bertekstur dan kontras. Pilihan untuk mencetak berbagai material bahan konstruksi ini adalah upaya agar biaya pembangunan banyak digunakan untuk biaya tukang daripada untuk pembelian material dari pabrik.
4) Konstruksi Atap
 Bentuk dasar atap Gereja Maria Assumpta adalah atap pelana. Yang menarik adalah pada bagian fasade depan gereja. Ujung atap diperuncing sehingga menjadikan teritisan menjadi lebar dan bernilai seni. Kebudayaan menghias atap ini mengingatkan pada kebudayaan Nusantara dengan ujung atap yang dihias, dibentuk sehingga tampil menarik. Lihat dan bandingkan dengan rumah adat Minangkabau atau Toraja. Plafond pada bangunan utama gereja menggunakan papan kayu (pada ruang tengah) dan anyaman bambu digunakan pada selasar atau serambi gereja.

PETUALANGAN MENYUSURI GEREJA-GEREJA 3




 a. Gereja Santa Maria Fatima, Sragen (Jawa Tengah)
 Gereja Maria Fatima yang dibangun sekitar tahun 1967-1969 ini mempunyai sejarah tersendiri bagi masyarakat Sragen. Gereja kecil berdenah segi empat ini sekaligus sebagai saksi sejarah pertama kalinya manusia meluncur ke angkasa luar. Gereja ini tepat berada di jantung kota karena letaknya sekitar 100m dari alun-alun Sragen.
1) Tektonika, Makna dan Ruang
 Gereja berdenah dasar segi empat ini merupakan gereja terbuka (lihat gb. 3.1), di mana merupakan representasi baru ‘pendopo’ yang dikelilingi dengan 12 kolom beton. Ruang yang berbentuk dasar segi empat ini yang menjadi ruang utama adalah R. Altar dan R.umat. Konfigurasi penataan ruang altar dan umat dengan memutar 45° yaitu menggunakan sumbu diagonal sebagai arah orientasi menjadikan gereja ini selain terbuka juga dapat diakses dari segala sisi atau arah. Dan pemaknaan konfigurasi ruang ini bukan hanya semata berhenti pada perubahan sumbu orientasi tetapi memberikan kesan bahwa gereja terbuka ini menerima umat dari segala penjuru untuk datang dan berdoa. Dan kalau dicermati lebih dalam lagi, ternyata arah orientasi ini juga sebagai salah satu solusi dalam menyiasati lingkungan. Dimana untuk lebih meningkatkan ke-khusyuk-kan dan nuansa religius orientasi umat dibuat berlawanan dengan orientasi jalan lingkungan (lihat gb. 3.3).
2) Konstruksi Dinding
 Konstruksi dinding lepas dari struktur utama bangunan. Dinding hanya menjadi pembatas rendah antara teras atau ruang luar dengan ruang dalam gereja. Penyelesaian dinding yang seakan nanggung atau tidak sampai pada menutup ruang secara utuh. Gereja ini seakan tidak ada batas visual, dinding rendah ± 1 m tak lanyaknya dinding pembagi ruang, melainkan lebih tepat sebagai pagar rendah penghalang gerak atau tempat duduk yang panjang menerus seperti pada dinding selasar-selasar. Nuansa yang terbentuk adalah terbuka dan seakan ruang luar gereja menjadi frame utuh bagi ruangan di dalam gereja, sebuh dialog antara ruang luar dan dalam.
3) Kolom dan Rangka Batang
 Struktur yang digunakan pada gereja ini adalah struktur rangka batang sederhana. Rangka batang (trusses) adalah struktur yang dibuat dengan batang yang relatif pendek dan lurus menjadi pola-pola segitiga. 
Kolom ini terbuat dari cor beton yang dicetak sedemikian rupa dengan bekisting papan dan seng sehingga melahirkan tektur vertikal yang tak beraturan. Kekhasan Mangunwijaya yang membiarkan cetakan tersebut nampak tidak selesai tanpa plesteran (apakah alasan ekonomis atau memberikan kesan dramatis???). kemudian sebagai bahasa simbol, kolom tersebut seakan diukir seperti bentuk relief menggambarkan lambang-lambang spiritualitas dalam kehidupan beragama. Bagian kolom ini nampak seperti ada 2 bagian yang berkebalikan dengan bentuk kolom di Wisma Kuwera (dapat dibandingkan di bahasan berikutnya). Dua bagian tersebut adalah badan dan kepala, atau tangkai dan mahkota? Mahkota tampil sangat mencolok dengan penyelesaian cat warna merah.
4) Konstruksi Atap
Konstruksi atap berbentuk limasan ini berlangit-langit anyaman bambu dengan teknik pembuatan mirip dengan yang digunakan pada wisma kuwera, dengan balok papan 2 x 5 cm. Konstruksi kuda-kuda menggunakan materi baja dengan pemakaian profil H 100, double L 70, double L 50 dan double L 40. Pada konsulnya material baja ini tidak diteruskan tetapi berganti menggunakan kayu sehingga setelah ± 37 tahun teritisan atap dengan bentang 2 m ini turun sekitar 15 cm  
5) Artikulasi Detail 
 Berikut ini beberapa pengolahan bahan pada detail yang dihasilkan oleh YB. Mangunwijaya
No Lantai Bukaan: pintu-jendela dll Pada elemen atap Kria Interior
1 Paduan ampyangan batu kerikil yang membawa kesan kasar dan ubin yang ditata seperti menganyam bambu.  
Bentuk jendela dari kaca bening yang dilukis dengan cat. Jendela ini pembeda kolom dan dinding penyelesain sangat kasar, tanpa kusen dan menggunakan tralis besi horisontal.  
Simbol identitas gereja berupa salib, dibuat dari bahan seng. Sebuah karya kria yang bernilai seni walaupun dari bahan sederhana. 
Kursi umat yang juga ekonomis dari balok kayu yang dijajar dan kaki kursi yang terbuat dari besi. Terkesan ringan dan seritme dengan lantai. Hasil las besipun sangat rapi.
2 Lihat bentuk tekstur ubin cetakan beton yang mirip anyaman bambu 
Panel pintu ini terbuat dari papan kayu yang dijajar sehingga membetuk panel. Jadi bukan dari kayu utuh karena pertimbangan nilai ekonomis. Lagi-lagi teknik menjalin bahan bangunan.  
Detail ini merupakan penangkal petir untuk atap gereja. Namun tampil indah dengan desain semacam ini. 

APRESIASI DESAIN PETIRAHAN SENDANG SONO







Petirahan Sendang Sono, Promasan, Kulonprogo (Jawa Tengah)
 Kompleks Sendangsono adalah salah satu petirahan bagi umat Nasrani Indonesia. Sebagian besar bangunan gedungnya terbuat dari konstruksi kayu berlandaskan fondasi batu alam yang juga dipakai untuk turap dan beberapa tiang. Sendang Sono adalah bangunan mata air asli bersejarah tempat dipermandikannya generasi awal Gereja Katolik Kali Bawang dan Muntilan ketika Van Lith, SJ sedang menanamkan cikal-bakalnya. Pada tahun 1972 Sendangsono akan dipugar. Ide pemugaran ini dilatarbelakangi oleh situasi Sendangsono yang secara fisik tidak lagi mampu menampung jumlah peziarah yang semakin banyak. Pemugaran, yang diharapkan akan menciptakan suasana yang nyaman bagi peziarah, dipercayakan kepada Mangunwijaya, romo yang juga arsitek. 
a. Tektonika, Makna dan Ruang
Roh teologis atau wastu (jiwa) diceritakan bahwa Ibu Maria adalah jembatan perantara di peristiwa Kana (Yohanes 2:1-11) ketika diminta tolong dengan amat sangat oleh orang-orang yang membutuhkan agar air diubah menjadi anggur. Dicitrakan dalam mata air Sendang Sono dan Peranan Maria adalah jembatan-jembatan yang membuat kita bisa melewatinya untuk sampai ke mata air dan minum air segar. Lingkup ziarah Maria Sendang Sono ditata satu dengan alam tumbuhan, pepohonan dan masyarakat sekitar (sekali lagi pasar menyatu dengan altar) dan jalan-jalan berliku-liku serta beragam semuanya punya jembatan-jembatan menuju air suci. Sebagai satu ekspresi, bangunan ini sekaligus mengungkap jalan-jalan kehidupan yang penuh salib (hingga haus untuk minum air segar kekuatan); dan pasang surut penghayatan kesucian di pasar dalam kekumuhannya kita punya Ibu Maria sebagai jembatan yang menemani kesusahan kita dan membawanya ke mata air sejati: air kehidupan.
b. Ekspresi tektonika pada unit bangunan
  Ekspresi tektonika pada beberapa tipe bangunan yang didesain oleh Mangunwijaya, dijelaskan sebagai berikut:
1) Tempat meditasi 
 Tempat meditasi ini terbentuk dari struktur kolom, balok dan struktur atap. Terdapat 4 kolom yang menjadi penyalur beban ke tanah. Balok melintang dan membujur tidak saling mengait satu sama lain tetapi sebagai balok jepit pada kolomnya. Balok jepit melintang berada di bawah selain berfungsi sebagai balok kolom juga diteruskan sebagai konsul. Demikian pula balok jepit yang membujur yang berada di atasnya. Jadi struktur kolom ini dijepit dari 2 arah yang menjadi penahan terhadap gaya geser horizontal . 
2) Kapel baru II
Sistem struktur pada kapel ini menggunakan struktur beton bertulang pada kolom dan baloknya. Terdapat 10 kolom dan pengggunaan struktur grid 2 arah. Struktur atap berbentuk limasan yang berjumlah 4 buah sehingga terkesan atapnya terpisah-pisah menjadi 4 bagian. Hanya menggunakan gording dan jurai tanpa struktur kuda-kuda. 
 Menurut analisis saya bahwa Mangunwijaya ingin menciptakan struktur grid yang kaku, apalagi dengan bentuk balok menyudut atau siku! Pada sistem grid 2 arah ini torsi terjadi pada semua elemen sebagai akibat dari deformasi struktur. Tahanan torsional elemen memperbesar kekakuan grid. Dan pemilihan bentuk kolom dengan diameter bulat merupakan pilihan solusi untuk struktur grid yang berat ini sehingga penyaluran beban menjadi lebih merata.
 3) Bangsal-bangsal istirahat
 Konstruksi kayu yang diterapkan dalam kompleks ini, adalah sebuah segitiga runcing berukuran besar yang merupakan konstruksi utama bangunan sekaligus berfungsi sebagai konstruksi atapnya. Konstruksi tersebut merupakan selubung bangunan gedung yang bersangkutan, tempat berbagai fungsi dan kegiatan diselenggarakan dengan baik dengan penyediaan ruangan-ruangan terkait atau dalam bentuk sebuah ruangan besar yang berbentuk dari selubung tadi. Teknik penerapan ini merupakan pengembangan dari teknik serupa yang diterapkan oleh arsitek Mangunwijaya ketika membangun perumahan kaum tuna wisma di Kali Code.
Terdapat 6 buah kolom bahan kayu yang langsung terhubung dengan struktur atap berbentuk segitiga runcing. Kolom terdiri dari 2 buah kayu yang menjepit struktur segitiga atap. 
Untuk struktur lantai platnya menggunakan papan kayu yang dijajar. Strukturnya merupakan balok 3 tingkat terdiri dari balok induk dan balok anak secara bertingkat (bertumpuk). Kolomnya tidak berhenti pada pertemuan balok tetapi menerus menembus plat dan menjepit stuktur segitiga atap. Disini ruang terbentuk dari struktur atap, fungsi dinding sekaligus fungsi atap fungsi jendela atau ventilasi berupa pemotongan bagian atap yang ditarik ke atas. Bangunannya ringan dan seakan melayang. Ruang dibawahnya digunakan untuk berbagai fungsi seperti atap untuk ruang duduk, gudang alat atau ruangan tertentu.
4) Kapel baru I
Kapel baru ini pada dasarnya terdiri dari 3 massa yang berimpit. 3 buah atap limasan runcing yang pada bagian puncak atapnya diselesaikan dengan 4 buah puncak atap. Jika ketiganya dikombinasi maka ada 3 buah atap dan 12 puncak. Sebuah pengejawantahan 3 dasar spiritualitas Kristen yaitu iman, harapan dan kasih yang menjadi pedoman hidup bagi 12 rasul Yesus (jemaat Kristen awal/ purba). Ketiga buah struktur atap ini adalah tipical dengan soko tunggal representasi sebuah bentuk pohon, ada batang dan cabang. Soko tunggalnya adalah kolom utama dan balok-balok yang seakan berpilin adalah cabang-cabangnya. Tiang utama ringan menjulang. Lihatlah intensitas ornamentasi yang diberikan. Berawal dari pangkal bawah tiang ornamen relatif sederhana dan besar kemudian berangsur bergerak keatas semakin intens dan kecil. Kesan immaterial tercermin lewat tiang ini.  

c. Ekspresi tektonika pada elemen landscape 
No Beberapa ekspresi detail pada landscape Sendang Sono 
1 Dinding atau pagar yang dibuat dengan dicetak. Hasilnya kasar, bergurat dan terdapat banyak tonjolan-tonjolan beton. Memperlihatkan karakter beton yang pada hakekatnya adalah material cair yang dapat dibentuk secara dinamis 
Dicitrakan dalam mata air Sendang Sono dan Peranan Maria adalah jembatan-jembatan yang membuat kita bisa melewatinya untuk sampai ke mata air dan minum air segar.
 Lingkup ziarah Maria Sendang Sono ditata satu dengan alam tumbuhan, pepohonan dan masyarakat sekitar (sekali lagi pasar menyatu dengan altar) dan jalan-jalan berliku-liku serta beragam semuanya punya jembatan-jembatan menuju air suci. 
Salah satu hasil cetakan yang digunakan untuk tekstur dinding talud/ turap pada landscape Sendangsono. Bermotif tumbuh-tumbuhan, daun dan bunga.
2 Paving di pelataran sendang sono disusun zig-zag. Manusiawi dipandang dari bagaimana manusia melangkah. Sederhana tetapi indah karena polanya menimbulkan efek gelap-terang saling berulang.
Jendela kaca mati pada kapel baru I. frame kayu yang memainkan sisa kaca menjadi pola horizontal acak besar-kecil, lebar-sempit.
Meja ibadat atau altar dari ‘gelondongan’ kayu yang ditegakkan dan disatukan. Benar-benar pemanfaatan sumber daya alami. Alam memberi keindahan tetapi manusia membentuk keindahan lewat hasil kebudayaan. 
Menganyam dinding dari batu bata, pekerjaan yang hampir ditemui di beberapa karya Mangunwijaya. Kebudayaan menganyam bahan yang merupakan tradisi arsitektur Nusantara.
 Mangunwijaya tetap menaruh monument sejarah berbentuk relief ini sebagai prasasti. Ia menghormati akar sejarah. 
Bentuk pintu masuk pada kapel baru II terbuat dari besi bercat hitam. Sederhana dan memperlihatkan ruang yang terdapat di dalamnya 
Perhentian jalan salib. Tampil kokoh dan berat dengan tumpukan batu. Seperti beratnya melalui jalan salib. 
Dinding yang diitutup dengan anyaman bambu. Bentuk eksperimen terhadap tektur dinding.

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile
Web Hosting